Pekerjaan di lapangan terus menunjukkan perkembangan positif meski keduanya berada di lokasi yang relatif jauh dari pusat pemerintahan.
"Bendungan Tanju progres fisiknya sudah 14,5% dan penyerapan anggarannya sudah 24,213%. Kalau Mila, fisiknya juga sudah mencapai 14,5% dan serapan anggarannya sudah sekitar 24,7%," jelas Kepala Pusat Bendungan Imam Santoso kepada detikFinance, Senin (25/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Cepatnya proses pembangunan ini sejalan dengan upaya percepatan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) agar target penyelesaian dua bendungan ini lebih awal dari target yang ditetapkan.
"Bendungan Tanju dan Mila mulai dikerjakaan. Target Pak Menteri (Menteri PUPR Basuki Hadimuljono) pembangunannya dipercepat. Yang tadinya 2018 selesai, kami upayakan akhir 2016 atau awal 2017 sudah bisa diselesaikan," kata dia.
Untuk diketahui, pembangunan Bendungan Mila dilatarbelakangi oleh potensi sungai Rababaka yang potensi airnya cukup besar, sementara lahan irigasinya relatif kecil dengan klasifikasi A seluas 1.689 hektare.
Dimana, potensi aliran air sungai Rababaka mencapai 79 juta meter kubik/tahun, namun yang dipakai baru sekitar 40 juta meter kubik/tahun, sehingga sisanya terbuang ke laut.
![]() |
Sedangkan pembangunan Bendungan Tanju, dilatarbelakangi oleh potensi sungai Tanju yang juga mempunyai potensi cukup besar namun sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sungai Tanju dapat mengairi sawah tadah hujan seluas 2.242 hektare dan penyediaan air baku untuk 5.776 kepala keluarga (KK), sementara sungai Rababaka dapat mengairi tanam seluas 1.689 hektare.
Selain pembangunan kedua bendungan baru tersebut, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan pihaknya juga sedang mempercepat proses pembangunan bendungan Bintang Bano dan berencana merenovasi bendungan Arah Manok di Kabupaten Sumbawa yang ruysak akibat terkena tanah longsor. (dna/ang)












































