Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai hal tersebut bukan tidak mungkin direalisasikan. Asalkan empat hal ini harus bisa dipenuhi. Pertama, ketersediaan pangan yang tergolong komoditas utama.
"Nah, sekarang kita bilang, ketersediaan pangan strategis harus dijaga, beras, telur, daging ayam, sapi, cabai, yang sudah biasa jadi sumber inflasi tuh, itu mesti dijaga. Jadi itu, caranya yang paling utama," jelasnya di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (26/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga sudah mulai kelihatan naik, langsung operasi pasar. Ada koordinasi antar wilayah, antar kabupaten dan provinsi. Kalau di Jakarta kekurangan daging, ya dibawa dari Nusa Tenggara Timur. Kalau tidak ada beras, datengkan dari Sulawesi Selatan," terang Agus.
Kedua, adalah keterjangkauan harga. Agus mengatakan, potensi lonjakan harga muncul karena permintaan yang meningkat. Sehingga bila diperlukan pemerintah mengambil langkah impor.
"Kita mesti tahu kalau suplai kurang, demand tinggi, pasti naik. Jadi mesti diantisipasi kalau misal ada el nino atau la nina. Kalau nggak bisa mengandalkan produksi nasional, mau nggak mau kita mesti impor biar inflasi nggak naik," ujarnya.
Ketiga, adalah kelancaran distribusi, khususnya yang berada pada wilayah rawan putusnya jalur distribusi. Misalnya daerah pulau terpencil. Keempat, adalah komunikasi antara berbagai pihak yang berkepentingan.
"Komunikasi, ini kadang-kadang hanya karena info tidak cukup, orang sangka bakal naik harganya," tegas Agus. (mkl/hns)











































