Hal ini disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Suahasil Nazara dalam diskusi tentang Perekonomian Indonesia di Gedung Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta, Kamis (28/4/2016)
"Defisit 2,15% akan ada pelebaran. Tapi kita maunya jangan lewat 2,5%. Kalau naik ke 2,5% ada penambahan pembiayaan Rp 46 triliun, dari jumlah tersebut Rp 19 triliun dari Silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran), Rp 27 triliun sisanya murni dari pembiayaan lewat pasar (surat utang)," ujar Suahasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suahasil, dalam pembahasan APBN-P nanti pemerintah akan mengajukan penurunan asumsi harga minyak dari sebelumnya US$ 50 per barel menjadi US$ 30 per barel atau US$ 31 per barel.
"Pemerintah siap melakukan revisi APBN sekitar Mei atau Juni. Kita harapkan ada efisiensi pengeluaran negara terutama belanja operasional. Kita sebisa mungkin tidak menyentuh belanja modal," kata Suahasil. (hns/feb)











































