Ekonomi dunia melambat dan berpengaruh langsung terhadap kondisi dalam negeri. Dalam lima tahun terakhir Indonesia mampu realisasikan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, sekarang hanya 4,8%.
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seiring dengan kebijakan moneter AS, besarnya utang luar negeri dan tingginya impor. Sektor pertambangan dan perkebunan anjlok akibat merosotnya harga komoditas. Meski demikian, pengusaha optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia di 2016.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di 2016 kita optimis. Kalau waktu di 2015 kita benar-benar mempunyai banyak kekhawatiran. Kekhawatiran mata uang, ramai-ramai di pemerintahan, sehingga kita merasa tidak adanya harmonisasi antara dunia usaha dengan pengambil kebijakan," ujar Rosan.
Pada 2016, sudah ada sedikit titik cerah yang terlihat. Perekonomian dunia mungkin masih melambat, akan tetapi sinergi antara Pemerintah Pusat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah tampak semakin mesra. Situasi ini bisa melahirkan berbagai kebijakan yang tepat.
"Kami melihat sekarang bahwa pengambil kebijakan dan dunia usaha arahnya sudah mulai beriringan. Kalau tadi saya liat ini yang menari gayo, yang nari dunia usaha yang gendang pemerintah. Jadi kalau gendangnya kencang kita narinya ikut kencang. Kalau gendang pelan kita ikut pelan. Yang kacau kalau yang gendang ikut nari," paparnya.
Sudah ada setidaknya 11 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah, dengan fokus utamanya adalah deregulasi. Meskipun ada beberapa kebijakan yang belum sampai kepada tahap implementasi, namun arah perekonomian Indonesia sudah terlihat lebih baik. Terbukti dengan persepsi investor dalam dan luar negeri.
"Saya baru mendampingi Presiden Jokowi ke Eropa. Para pengusaha di sana dengan KADIN. Itu suatu hal yang positif. Melihat kebijakan pemerintah kita, BI konsisten. Karena konsistensi itu lebih utama, penting dari pada kebijakan yang swing-nya lebih besar. Itu buat ketidakpastian. Para investor jadi nggak jelas. Konsisten dan stabilitas jadi penting bagi pertumbuhan dan dunia usaha," terang Rosan.
Pemerintah juga terus memperbaiki kemudahan berusaha di dalam negeri. Target dipasang pada peringkat kemudahan berusaha atau easy of doing bussiness, yang dirilis oleh Bank Dunia. Dari yang sekarang 109 menjadi 40 atau setidaknya mampu melewati Vietnam dan Thailand.
"Presiden bilang ingin jadi 40. Iya Ini tantangan. Tapi political will-nya ada. Perbaikan dalam ease of doing business mestinya perusahaan Indonesia juga jadi lebih baik," tutupnya. (mkl/feb)











































