Pemerintah Arab Saudi Berhemat, Perusahaan Konstruksi Ini PHK 50.000 Karyawan

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 02 Mei 2016 07:14 WIB
Foto: Ilustrasi
Jakarta - Kondisi harga minyak yang jatuh, membuat anggaran pemerintah Arab Saudi menipis. Penghematan dilakukan. Namun dampaknya cukup besar.

Perusahaan konstruksi, Saudi Binladin Group, harus menghadapi kenyataan ini, dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 50.000 pegawainya.

Dilansir dari CNBC, Senin (2/5/2016), Binladin merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Timur Tengah, dengan jumlah total pegawai 200.000 orang.

Menurut koran al-Watan, Binladin melakukan PHK kepada 50.000 pegawainya, yang semuanya adalah orang asing.

Koran itu mengatakan, para pekerja yang terkena PHK ini menolak meninggalkan Arab Saudi tanpa digaji, dan ada sebagian yang belum digaji selama lebih dari 4 bulan. Para pegawai berunjuk rasa di depan kantor Binladin hampir setiap hari.

Binladin tidak berkomentar terkait kabar ini. Menurut al-Watan, perusahaan ini sedang bermasalah soal pembayaran gaji karyawannya.

Perusahaan ini sempat berjaya dalam beberapa dekade terakhir, saat harga minyak tengah booming. Banyak proyek infrastruktur kerajaan Arab Saudi yang dibangunnya.

Namun, kondisi harga minyak yang turun membuat bisnis mereka lesu. Apalagi, anggaran pemerintah Arab Saudi mengalami defisit besar.

Pada September lalu, kerajaan Arab Saudi juga melarang Binladin mendapatkan kontrak pekerjaan baru. Setelah peristiwa jatuhnya crane yang menyebabkan 107 orang meninggal, di Masjidil Haram Makkah.

Binladin diduga tidak mendirikan crane secara aman. Namun hal ini belum dijawab Binladin.

Selain minimnya proyek baru, Binladin juga tengah bermasalah mengelola utang-utangnya yang jatuh tempo.

Saudi Binladin Group didirikan pada 1938 oleh ayah dari Osama bin Laden. Namun Osama disingkirkan dari daftar pemegang saham pada 1993 dan tidak dianggap menjadi bagian dari keluarga. (wdl/wdl)