Hal itu diungkapkan Darmin saat memberikan paparan di seminar Tantangan SDM Indonesia Menghadapi Persaingan Industri Layanan Keuangan di Era MEA di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Menurut Darmin, banyak sekali lembaga pendidikan hingga pelatihan di Indonesia, namun kebanyakan tidak menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Hal tersebut akhirnya membuat daya saing tenaga kerja kerja lokal rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, sistem pendidikan dengan konsep link and match yang dipakai saat ini tidak menghasilkan tenaga kerja sesuai dengan skill yang dibutuhkan. Sertifikat yang diperoleh banyak yang tidak sesuai dengan kompetensi pekerja.
"Conotoh sederhana sebelum masuk pemerintahan, dulu saya memimpin lembaga penelitian UI. Sekali waktu saya mau rekrut juru ketik. Mau cari 2 orang yang daftar 200 orang. Begitu dilihat mereka punya sertifikat dari lembaga Wordstar, dan sebagainya. Tapi lulusannya Wordstar itu bagaimana? Tidak jelas kemampuannya. Ada sertifikatnya memang," ujar Darmin
"Harusnya Wordstar dalam sertifikat bisa dijelaskan dalam 10 menit bisa ketik sekian kata, kesalahan 1%. Jadi jelas kompetensinya. Misal maunya yang kesalahan yang 0,7% saja. Mungkin yang daftar hanya 6 orang saja," tambahnya. (ang/ang)










































