Hal ini disampaikan oleh Direktur Pelayanan AP II, Ituk Herarindri usai menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Direksi Damri dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
"Damri ini ada banyak Komplain," kata Ituk kepada detikFinance di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita AP II pengelola bandara 13 biji. Untuk Bandara Soetta ada 14 stakeholder, salah satunya Damri. Kita itu ingin mewujudkan world class airport. Jadi nanti akan ada diskusi dengan seluruh stakeholder agar bisa mewujudkan smile airport," paparnya.
AP II, ujar Ituk, berkomitmen membantu Damri meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa bandara. AP II merekomendasikan ke Damri untuk membuat layanan Customer Service 24 jam agar konsumen bisa langsung menyampaikan keluhan atau bertanya, tidak lagi ke Customer Service Bandara Soetta.
"Jadi kami support Damri untuk sama-sama wujudkan smile airport itu. Saya sebagai pengelola bandara, akan men-support agar Damri itu bisa semakin prima," tambahnya.
"Kemudian Customer Service 24 jam. Karena komplain sekarang ke AP II. Tapi pelanggan akan lebih lama untuk mendapat jawaban. Sementara Damri belum ada, bisa kita bantu," ujarnya.
Selain itu, Damri diminta untuk membuat titik kumpul yang terpusat di satu titik untuk area penjemputan atau pengantaran penumpang di area bandara.
"Tadi dari harapan peserta (FGD), Damri bisa jelas. Kemudian begitu jamnya pasti. Berangkatnya nggak usah muter-muter lagi cari penumpang.
Saran dari kita misalnya, ada feeder untuk mengumpulkan penumpang," ujarnya.
Dengan tersedianya layanan Damri yang prima, AP II percaya pengguna jasa bandara bisa meninggalkan kendaraan pribadi di rumah untuk menuju ke bandara. Pengguna jasa bisa memakai bus Damri, atau kereta bandara yang ditargetkan akan beroperasi di akhir 2016.
"Kalau Damri pelayanan meningkat, Damri dan KAI menjadi pilihan karena sekarang pakai kendaraan pribadi itu akan membuat kemacetan," sebutnya.
Damri Tidak Bisa Berikan Kepastian Waktu
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menjelaskan pihaknya merangkum beberapa keluhan konsumen terhadap layanan Damri Bandara Soetta. Salah satunya ialah armada Damri belum bisa memberikan kepastian waktu dan pelayanan yang baik. Kemudian, halte Damri banyak yang tidak berfungsi karena tidak ada pengumuman untuk armada bus yang datang.
"Soal nomor kursi. Itu (penumpang) bisa saling berebut untuk mendapatkan kursi. Kemudian sekarang masih pakai cash. Harusnya sudah pakai e-ticketing," paparnya.
Damri Janji Berbenah
Direktur Keselamatan dan Pelayanan Damri, Gede Pasek Suardika akan mengamati dan mencatat semua keluhan pelanggan. Ia mengaku keluhkan pelanggan sebetulnya sudah ditindaklanjuti, sejak beberapa bulan saat dirinya menjabat Direksi Damri.
Ia mengambil contoh perbaikan yang telah dilakukan pihak manajemen seperti bidang bagasi telah diperbaiki, e-ticketing sedang penjajakan dengan Telkom, pengemudi yang kurang sopan sudah disiapkan alat untuk melihat kinerja, serta layanan informasi terkait keberadaan dan keberangkatan bus sudah ditindaklanjuti dengan passenger information system.
"Kalau halte itu kami numpang di Pemda. Jadi di luar jalur kami. Kemudian ontime performance, misalnya dari awal itu bisa ontime sampai bandara. Cuma beda memang kalau dari bandara itu kita muter dulu. Karena di tol sepi dan bisa rugi kita," sebutnya.
Meski demikian, ia meminta kepada AP II sebagai operator bandara untuk mengumumkan tentang kepastian kedatangan dan keberangkatan pesawat sehingga bus bisa mengikuti jadwal pergerakan pesawat.
"Dari bandara itu kita harapkan bisa penerbangan yang pasti sehingga kita bisa tetapkan waktu lebih tepat," tegasnya. (feb/hns)











































