Cerita Susahnya Eksportir RI Cari Buah Untuk Diekspor

Cerita Susahnya Eksportir RI Cari Buah Untuk Diekspor

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 09 Mei 2016 19:01 WIB
Cerita Susahnya Eksportir RI Cari Buah Untuk Diekspor
Foto: rengga sancaya
Jakarta - Memiliki tanah luas serta kaya varietas buah tropis, tak menjamin ekspor buah Indonesia menggembirakan. Sebaliknya, pasar dalam negeri malah dibanjiri buah impor, terbanyak berasal dari China.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo), Khafid Sirotudin, mengungkapkan ada 3 penyebab yang menjadikan ekspor buah tropis lokal sangat sedikit.

"Kita bisa ekpor banyak kalau buahnya bisa memenuhi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Kalau negara tetangga skala perkebunan, carinya mudah, kita cari buahnya di pekarangan," jelasnya kepada detikFinance, Senin (9/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dibanding negara-negara tetangga, sambung Khafid, Indonesia telah jauh tertinggal dalam perkara pengembangan buah lokal. Kalaupun ada perkebunan buah besar, itu pun dikelola perusahaan besar.

"Kalau negara-negara tetangga yang kelola petani, hanya skalanya besar lewat perkebunan intensif. Seperti Pisang di Davao Filipina, (Durian) Montong di Thailand, mangga di Malaysia. Carinya eksportir ke kebun, kita ke bakul atau cari di pekarangan," kata dia.

Khafid menuturkan, tanpa perkebunan intensif yang dikelola petani, sulit untuk eksportir mendapatkan pasokan buah dengan kualitas seragam, jumlah besar, serta rutin.

"Contoh seperti kita cari salak harus satu minggu baru bisa dikumpulkan untuk dikapalkan. Karena untuk efisien harus pakai kapal, ekspor sedikit bisa tapi pakai pesawat, jatuhnya mahal," tutupnya.

Sebagai informasi, volume buah tropis yang diekspor Indonesia pada tahun lalu sebanyak 68.555 ton. Ekspor tersebut meliputi buah manggis 38.071 ton, pisang 22.308 ton, salak 2.201 ton, dan buah lainnya sebanyak 5.974 ton. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads