Menurut JK, masalah pangan ini dialami oleh hampir di banyak negara. Masalahnya mulai dari, cuaca, iklim, lingkungan, hingga pertambahan penduduk.
"Kenapa selalu jadi masalah? Karena penduduk tambah, lahan terbatas akibat penduduk sendiri. Selanjutnya masalah iklim. Apalagi ada climate change. Kemudian ada masalah lingkungan, dan persaingan makanan versus minyak. Jagung apakah buat makanan apa buat bahan bakar," kata JK di kantor pusat Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (10/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena orang Papua sekarang makan beras, dulu sagu. Orang Maluku sekarang makan beras. Lingkungan hutan babat jadinya pengairan rusak. Ujungnya fungsi air untuk pangan terganggu," jelasnya.
Peran Bulog juga sangat krusial dalam hal ini. Perusahaan pelat merah itu harus bisa mengendalikan harga dan distribusi pangan secara merata ke seluruh Indonesia.
"Kalau Bulog dibuat saat itu tahun 1967 itu penduduk RI jumlahnya 160 juta. Sekarang 250 juta. Jadi sulit bandingkan Bulog dulu dan sekarang. Orang yang diurus jumlahnya beda. Lahan juga makin sempit. Jalan ke Karawang samping kiri-kanan pabrik semua. Perubahan itu bikin masalah pangan saat ini," ujarnya.
Indonesia sebagai negara kepulauan juga menjadi masalah tersendiri dalam distribusi pangan. Logistik di negara kepulauan jauh lebih rumit ketimbang negara yang minim pulau.
"Maka masalah distribusi tidak lepas dari masalah suplai. Indonesia negara kepulauan, beda dengan yang negara kontinental. Kepulauan perlu logistik yang lebih rumit. Kita sama masalahnya dengan Filipina," kata JK. (ang/dnl)











































