JK: Petani Padi di Indonesia Tak Pernah Makmur

JK: Petani Padi di Indonesia Tak Pernah Makmur

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 10 Mei 2016 13:35 WIB
JK: Petani Padi di Indonesia Tak Pernah Makmur
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Beras adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Komoditas ini sangat penting dalam kelangsungan hidup masyarakat.

Kendati demikian, petani pada sebagai produsen beras di tanah air hidupnya tidak pernah makmur. Pasalnya, pendapatan yang diterimanya tiap panen pun kecil.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), mengatakan hal ini yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah melalui Bulog harus bisa memberikan harga yang sesuai bagi petani, tapi juga tidak memberatkan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maka pemerintah tetapkan batasan atas bawah buat jaga itu. Walau di Indonesia, produsen padi itu tidak pernah makmur. Pendapatan petani padi tidak pernah di atas UMP (Upah Minimum Provinsi). Malah di bawah UMP," kata JK, di acara syukuran HUT ke-49 Bulog di kantor pusat Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (10/5/2016).

"Petani 1 hektar dapat 5 ton padi. Harga Rp 4 000 per kg berarti dapat 20 juta. Dipotong biaya dia jadi dapat Rp 12 juta. Kasih dibagi 4 orang, kecil jadinya," tambah JK.

JK meminta Bulog bisa menyeimbangkan harga antara petani dan konsumen. Sebab, jika harga terlalu tinggi di satu pihak, akan merusak tatanan yang sudah berjalan.

Kalau harga terlalu rendah, petani tidak mau lagi tanam padi karena bisa rugi. Ujung-ujungnya, negara harus impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Di Mesir pengekspor gandum terbesar pada masa lalu, sekarang jadi pengimpor terbesar. Dikontrol harga terlalu rendah, akibatnya harga rendah, petani malas tanam gandum. Petani tidak tertarik lagi tanam gandum. Artinya dia Mesir salah dalam keseimbangan dalam kebijakan harga. Baik buat konsumen juga menarik buat produsen," jelasnya. (ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads