Kurang Dana, Jonan Lobi China Biayai Proyek Rel Luar Jawa

Kurang Dana, Jonan Lobi China Biayai Proyek Rel Luar Jawa

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 10 Mei 2016 14:27 WIB
Kurang Dana, Jonan Lobi China Biayai Proyek Rel Luar Jawa
Foto: feby dwi sutianto
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui pembangunan rel baru sepanjang 3.285 kilometer (km) membutuhkan dana sangat besar karena harus dicapai dalam periode 2015-2019. Sebagai gambaran, setiap 1 km rel baru membutuhkan investasi US$ 2 juta.

Artinya, kebutuhan dana khusus untuk konstruksi prasarana (rel) mencapai US$ 6,57 miliar atau setara Rp 85 triliun (kurs Rp 13.000 per dolar AS). Anggaran ini di luar biaya pembebasan lahan.

Tinggi biaya tersebut, membuat Menteri Perhubungan (Menhub), Ignasius Jonan harus melobi Pemerintah China agar mau terlibat dalam pembiayaan dan pengembangan proyek rel tersebut. Alasannya, proyek tersebut susah dicapai dalam waktu 5 tahun bila mengandalkan alokasi APBN semata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bapak menteri (Menhub Jonan), 2-3 minggu lalu ke China untuk menawari pembangunan rel baru," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Hermanto Dwiatmoko saat acara press background di Hotel Peninsula, Jakarta, Selasa (10/5/2016).

Pemerintah China ditawari pengembangan rel baru untuk rute Trans Sulawesi dan Sumatera. Dari pembicaraan tersebut, China menunjukkan ketertarikannya.

"Tim China sudah datang ke kami untuk cari data," jelasnya.

Pencarian mitra luar negeri bukan tanpa sebab. Indonesia membutuhkan sumber pendanaan yang murah atau lunak. Pemerintah, kata Hermanto, tidak menawari proyek ini kepada investor swasta asing karena proyek rel luar Jawa tidak menarik secara finansial.

"Kita cari yang loan dengan bunga rendah. Tapi kita nggak tawarkan ke swasta karena nggak menguntungkan dan ini rel perintis," tambahnya.

Selain China, Kemenhub juga menawarkan proyek rel ke Jepang. Jepang berminat namun tidak untuk rel baru. Pemerintah Negeri Sakura melirik revitalisasi rel lintas utara Jawa. Jepang berminat untuk meningkatkan kemampuan rel lintas utara Jawa sehingga kereta bisa melesat dari 100 km per jam menjadi 150 km per jam.

"Penawaran ada 3 project, ke Jepang dan China. Ke China yang ruas Trans Sumatera dan Sulawesi. Sedangkan 1 lagi revitalisasi lintas utara Jawa agar kereta bisa melesat 150 km per jam. Jepang tertarik kecepatan tinggi," ujarnya. (feb/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads