Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Muhammad Maulana, mengungkapkan ada anomali pasar pada suplai kebutuhan pangan dari sisi data riil. Artinya, data yang dihitung berdasarkan luasan tanam dan masa panen menyatakan suplus, namun di lapangan hal tersebut tak terjadi.
"Menurut kami beras itu anomali ke produksi. Data juga perlu diperbaiki, misalkan 1 hektar menghasilkan 9 ton gabah, padahal cuma 5 ton per hektar riilnya. Maka kalau dikali ribuan hektar akan berapa banyak biasnya," ujar Maulana, ditemui di kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Selasa (10/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anomali lebih ke cuaca, bukan ke konsumsi beras. Ibaratnya saat ini orang makan dari dulu tetap 3 kali sehari, bukan berubah 4 kali sehari. Kalau konsumsi bisa sangat tepat hitungannya, kalau suplai sangat tergantung cuaca juga," jelas Maulana. (wdl/wdl)











































