PLBN yang berbatasan langsung dengan Pos Perbatasan Lubok Antu milik Negara Bagian Sarawak, Malaysia ini, mulai dibangun ulang pada 18 Desember 2015, dan baru akan selesai pada 11 Desember 2016.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Plafon langit-langit terlihat sudah mengalami kerusakan, lusinan lantai juga sudah jebol. Selain itu banyak terlihat lumut di sudut-sudut dinding.
Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rina Farida, mengatakan bangunan lama PLBN akan segera dibongkar bersamaan dengan pembangunan fasilitas baru.
"Nanti secepatnya yang lama mau dibongkar. Yang pasti fasilitas yang baru jauh lebih bagus dan lengkap," jelas Rina kepada detikFinance, di lokasi pembangunan PLBN Nanga Badau, Kamis (12/5/2016).
![]() |
PLBN yang menelan dana APBN Rp 153,87 miliar ini, bakal memiliki fasilitas berupa bangunan utama, bangunan pemeriksaan kedatangan, klinik, car wash, jembatan timbang, pemindai truk, terminal keberangkatan, gudang penyitaan, kennel, check point, dan monumen.
"Ini program dan janji Presiden Joko Widodo membenahi kawasan di perbatasan. Ada 7 PLBN yang dibangun baru yang semuanya akan selesai akhir tahun ini," ujar Rina.
Sebagai penggantinya, aktivitas pemeriksaan imigrasi dan karantina dipindah ke bangunan darurat yang terbuat dari triplek. Letaknya hanya selemparan batu dari bangunan PLBN lama.
Berdiri di atas lahan 8,8 hektar ini jadi satu dari 3 pintu perlintasan penyebrangan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Dua PLBN lainnya yakni PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, dan PLBN Entikong di Kabupaten Sanggau. (wdl/wdl)














































