Lalu, apakah target pertumbuhan tersebut bisa tercapai? Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, ada 2 hal yang membuat peluang ekonomi Indonesia bisa tumbuh sesuai target tahun ini.
Pertama, ekonomi China yang mulai pulih akan mendorong peningkatan permintaan komoditas tambang dan perkebunan dari Indonesia, khususnya dari Sumatera dan Kalimantan. Kedua pulau ini dikenal sebagai penghasil komoditas tambang dan perkebunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, penundaan kenaikan suku bunga Bank Sentaral Amerika Serikat (Fed Funds Rate), membuat situasi di emerging market maupun nilai tukar menjadi lebih stabil. Situasi ini membuat industri manufaktur di Indonesia yang mayoritas bahan bakunya impor, tetap stabil.
Terutama, industri manufaktur yang banyak tersebar di Jawa.
"Di Jawa ini banyak industri manufaktur yang membutuhkan barang impor. Sekarang kurs sudah lebih stabil, sehingga industri manufaktur di wilayah Jawa mulai bisa beraktivitas kembali," kata Mirza.
Berdasarkan pada kondisi ini, menurut Mirza, ada harapan pertumbuhan ekonomi di triwulan II tahun ini bisa lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang hanya 4,92%. Namun, dia mengingatkan, masih perlu dorongan lebih lanjut untuk membawa pertumbuhan Indonesia ke level 5,3% tahun ini.
Dorongan itu adalah percepatan pencairan anggaran belanja pemerintah pusat dan daerah.
"Masih perlu dorongan yang lebih lanjut yaitu percepatan pencairan anggaran di setiap kementerian dan daerah. Sehingga, untuk mencapai 5,2% atau 5,3% menjadi sesuatu yang mungkin untuk kita capai tahun ini," pungkas Mirza. (hns/rvk)











































