"Kita sudah ada tren yang surplus dan itu sangat bagus sekali", kata Deputi Bidang Distribusi Statistik dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadiwibowo, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (16/5/2016).
Di April 2016, angka ekspor Indonesia tercatat US$ 11,45 miliar, turun dibandingkan Maret 2016. Ekspor minyak dan gas bumi tercatat turun 28,44% menjadi US$ 890 juta, dari US$ 1,24 miliar di Maret 2016 lalu. Sementara ekspor non migas pada periode yang sama turun 0,1% menjadi US$ 10,56 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan ekspor paling besar dikarenakan migas, sedangkan non migas dipengaruhi oleh penurunan ekspor batu bara yang secara volume menjadi 3 juta ton," kata Sasmito.
Nilai ekspor kumulatif Januari-April 2016 mencapai US$ 45,05 miliar, turun 13,63% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Porsi ekspor terbesar Indonesia adalah lemak dan minyak hewan nabati dengan nilai US$ 5,27 miliar, diikuti bahan bakar mineral US$ 4,33 miliar.
Berikut pangsa pasar ekspor Indonesia:
- Amerika Serikat (AS) US$ 4,97 miliar
- Jepang US$ 4,18 miliar
- China US$ 3,89 miliar
- ASEAN US$ 8,83 miliar
- Uni Eropa US$ 4,61 miliar
Dibandingkan dengan April 2015, nilai impor di April 2016 turun 14,62%.
Akumulasi impor Indonesia pada Januari-April 2016 adalah US$ 42,74 miliar, turun 13,44% dari periode yang sama tahun lalu.
Porsi impor terbesar Indonesia adalah, mesin dan peralatan mekanik US$ 6,81 miliar, serta mesin dan peralatan listrik US$ 4,79 miliar.
Pangsa pasar Indonesia adalah:
- China US$ 9,65 miliar
- Jepang US$ 4,10 miliar
- Thailand US$ 3,05 miliar
- ASEAN US$ 8,43 miliar
- Uni Eropa US$ 3,59 miliar











































