Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sudjono Kamino mengungkapkan, meski dijual pada pedagang, OP tersebut akan efektif mengontrol harga karena stok yang digelontorkan Bulog cukup besar. Dalam hal ini, Bulog berperan jadi pedagang besar.
"Saya hitung tahap awal saja Bulog siap 23.000 ton, padahal saya hitung buat amankan satu bulan sudah cukup 12.600 ton," ujar Spudnik ditemui di gudang Bulog Divre, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (16/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya pemain baru yang besar seperti Bulog di pasar induk, menurut Spudnik, hal itu akan mengurangi pengaruh pedagang besar yang selama ini dominan mengendalikan harga dan pasokan.
"Anda (Bulog) jual di bawah Rp 25.000/kg, yang lain mau tidak mau ikutin," jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, stok bawang merah Bulog yang dioper ke pasar induk di Jabodetabek dan sekitarnya, berasal dari 13 sentra bawang merah nasional. Beberapa di antaranya tidak rutin mengirim bawang merah ke Jabodetabek.
"Bawang merah dari 13 sentra seperti di Bima, Cirebon, Majalengka, Garut, Brebes, Ngantang (Malang), Nganjuk, dan sebagainya," pungkas Spudnik.
Ditemui di tempat yang sama, Plt Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Srie Agustina mengungkapkan, masuknya Bulog sebagai pemain besar baru, sangat efektif mengendalikan praktik spekulan pedagang-pedagang besar.
"Arahnya jelas Bulog jadi pedagang besar. Jangan menyaingi pasar rakyat dengan jualan (operasi pasar) depan pasar. Bulog masuknya di pedagang besar, jual murah ke yang (pedagang) kecil," kata Srie.
"Pedagang yang main-main spekulan tak akan berani lagi. Bawang hanya tahan 3 bulan, orang mulai perhitungkan kalau mau jadi spekulan karena Bulog sudah punya stok begitu besar," tambahnya. (feb/feb)











































