BUMN Berencana Masuk ke Bisnis Peternakan Ayam

BUMN Berencana Masuk ke Bisnis Peternakan Ayam

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 16 Mei 2016 20:14 WIB
BUMN Berencana Masuk ke Bisnis Peternakan Ayam
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta - Sebanyak 95% usaha peternakan ayam pedaging (broiler) saat ini dikuasai oleh perusahaan besar terintegrasi, hanya 5% penguasaan pasar oleh peternak mandiri atau rakyat.

Perusahaan terintegrasi umumnya peternakan ayam yang memiliki fasilitas produksi pakan, day old chickens (DOC), vitamin, hingga kandang budidaya ayam.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, sekaligus mengontrol harga daging ayam, pemerintah berencana menugaskan BUMN masuk ke industri peternakan ayam terintegrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Bidang Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro mengungkapkan, rencana BUMN berinvestasi di sektor tersebut masih terus dimatangkan.

"Iya benar kita rencana ke situ (investasi). Nanti Senin depan mau presentasi detail, masih disiapkan timnya. Kita minta waktu siapkan seminggu," kata Wahyu kepada detikFinance ditemui di gudang Bulog Divre, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (16/5/2016).

Ditemui di tempat yang sama, Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina mengungkapkan, saat ini yang paling diperlukan membangun industri dari BUMN untuk membantu peternak mandiri yang kerap kesulitan mendapatkan DOC hingga pakan.

"Unggas integrasi itu butuh investasi sangat besar. Pemain yang sekarang kan punya semuanya, yang penting bagaimana caranya yang industri mandiri ini dapat pasokan pakan dan lainnya secara cukup. Kalau integrated kan semua sudah punya," jelas Srie.

"Investasinya sangat besar dan jangka panjang. Kita akan fokus benahi peternak mandiri," pungkasnya.

Dari hasil pantauan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di bulan Januari-Februari, terjadi disparitas harga yang tinggi untuk komoditas daging ayam. Daging ayam di tangan peternak dihargai Rp 10.000 per kg. Sementara harga daging ayam yang berlaku di pasaran berkisar Rp 38.000-Rp 40.000 per kg dari harga yang ideal Rp 18.000 per kg. (feb/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads