"Kita mau bikin display di KKP, biar bisa dipamerkan dan masyarakat kita bisa lihat," kata Susi, saat berbincang di VIP Lounge Bandara Soekarno-Hatta, sebelum bertolak ke Sochi, Rusia, Senin (16/5/2016) malam.
Selain Susi, beberapa petinggi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga ikut serta dalam rombongan tersebut, yaitu Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo, KaBPSDMPKP Rifky Effendi Hardijanto, dan KaBakitbang KP M. Zulficar Mochtar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang bagus-bagus itu mereka (perusahaan) bawa semua, kita kebagian yang jelek-jelek. Padahal itu banyak sekali," ujar Susi.
Benda-benda bersejarah itu, dilelang oleh perusahaan swasta di luar negeri dengan harga yang fantastis. Sehingga, benda bersejarah yang seharusnya menjadi milik Indonesia itu malah menjadi koleksi penggemar barang antik di dalam dan luar negeri.
"Makanya nanti kita bujuk supaya mereka (kolektor barang antik), untuk bisa pamerkan di kita. Nanti bisa disewa atau bagaimana. Itu kan bagian dari sejarah. Masak rakyat kita ingin lihat peninggalan bersejarah harus pergi ke luar negeri?" ungkap Susi.
Susi mengatakan, saat ini ada lebih dari 400 titik kapal karam di Indonesia. Sebagian dari jumlah itu sudah dilakukan pengangkatan harta karun.
Demi menghindari pengangkatan oleh pihak swasta, Susi menetapkan moratorium sejak tahun lalu. Susi ingin harta karun ini bisa diangkut oleh pemerintah saja supaya hasilnya tidak jatuh ke tangan pihak lain.
"Sudah lebih dari setengahnya kita angkut. Saya inginnya (angkut) sendiri saja. Kita anggarkan, minta itu pasukan tentara untuk menyelam. Hasilnya bisa buat kita sendiri," ujarnya.
"Saat ini yang lagi saya kejar itu yang Vasco da Gama. Itu yang paling besar. Saya kira ada di Pulau Lingga, di Tanjung Karimun," kata Susi. (ang/wdl)










































