Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman mengungkapkan, jika biasanya jadi penyebab banjir di sejumlah daerah, anomali cuaca La Nina tahun ini justru membawa berkah tersendiri dalam upaya peningkatan produksi.
"La Nina ini terjadi di bulan Juli. Aku baru bicara dengan kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). La Nina terjadi pada Juli, Agustus, dan September. Ini adalah berkah di saat musim kering tapi ada La Nina," jelas Amran ditemui di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (17/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami khawatirnya kalau ini terjadi di akhir tahun. Justru kita bersyukur adanya La Nina ini terjadi di musim kering," ujar Amran.
Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini menyebut, dengan La Nina yang di Juli nanti atau bertepatan dengan mulainya musim paceklik, pihaknya tak perlu mempersiapkan antisipasi seperti fenomena La Nina sebelumnya yang berdampak pada banjir besar.
"Justru ini dengan La Nina datang pada musim kering. Kalau hujan sama dengan El Nino ketemu di musim kering, antisipasi kemarin kita buat sumur dangkal dan pompa. Tapi ini La Nina dia datang pada musim kering. Musim hujan deras ini pada saat musim kemarau, artinya itu rahmat bagi pertanian," kata Amran. (hns/hns)










































