Senior Adviser for Economic & Public Policy AIPEG (Australia Indonesia Partnership for Economic Governance), Achmad Shauki mengungkapkan, meski Indonesia masih kewalahan dibanjiri barang impor, tak lantas jadi alasan untuk menunda keikutsertaan ke dalam keanggotaan TPP.
"Sebetulnya kewalahan dua-duanya, ikut atau tidak ikut. Semua ada konsekuensinya, kalau tidak bergabung dengan TPP, ekspor kita bisa turun," jelas Shauki ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Rabu (18/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua kan berjalan. TPP jalan terus, kalau biaya dalam negeri negeri masih tinggi, kita sambil benahi. Nggak bisa ikut TPP tunggu dulu sebelum beres membenahi itu, semua jalan secara bersama-sama. Nggak bisa tunggu-tunggu," ujar Shauki.
Menurutnya, jika tak segera bergabung, Indonesia akan semakin banyak kehilangan potensi ekspor. Potensi ekspor yang berkurang tersebut berasal dari pengalihan perdagangan dari Indonesia ke anggota TPP.
"Dalam produk alas kaki, jika sebelumnya beli dari Indonesia, Amerika Serikat akan lebih memilih membeli produk yang sama dari Vietnam, karena produk dari Vietnam bebas tarif, lebih murah. Potensi kehilangan mencapai US$ 306 miliar," kata Shauki yang juga anggota tim kajian TPP Kemendag. (hns/hns)










































