Siang waktu setempat, Susi menggelar pertemuan dengan Badan Federasi Perikanan Rusia yang dipimpin ketuanya, Ilya Shestakov. Hadir juga beberapa petinggi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yaitu Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan Rifky Effendi Hardijanto, dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Muhammad Zulficar Mochtar.
Pertemuan digelar di Hotel Radisson Blue Paradise, Sochi pada pukul 13.00 waktu setempat. Di antara para peserta diskusi yang rata-rata berjas, Susi tampil mencolok dengan dress hijau dibalut scarf merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Susi memberi cinderamata batik ke delegasi Rusia (Angga/Detik) |
Susi minta Rusia bisa bikin pusat pemrosesan ikan di Indonesia Timur. Dengan demikian, kualitas ikan ekspor Indonesia bisa makin meningkat.
"60% tuna di dunia datang dari Indonesia. Nelayan lokal banyak tangkap, dengan fasilitas yang bagus di freezing dan processing. Itu akan membuat produk kami lebih segar," ujar Susi.
Pihak asing tidak bisa membuat perusahaan tangkap ikan, tapi masih bisa bikin perusahaan pemrosesan ikan dengan kepemilikan hingga 100%.
"Saya sudah ditunjuk jadi special envoy untuk Rusia. Akan saya fasilitasi semuanya dari Pemerintah (Rusia) hingga komunitas bisnis yang perlu berbisnis di Indonesia," ujar Susi.
![]() Delegasi Rusia diminta memakai batik saat berkunjung ke Indonesia (Angga/Detik) |
Pada kesempatan itu, Susi dan Ilya sempat bertukar cinderamata. Susi memberikan kain batik merah bergambar ikan kepada Ilya.
"Nanti kalau ke Indonesia jangan pakai jas. Indonesia panas, pakai batik saja," ujar Susi disambut senyuman Ilya. (ang/feb)













































