Pada umumnya, angka depresi akibat pekerjaan meningkat saat usia lanjut, yaitu pada usia di atas 55 tahun. Angka depresi lansia perempuan di China dan Korea Selatan juga terbilang sangat tinggi.
"Indonesia meskipun kerja keras mereka bahagia. Angka depresi rendah bahkan di usia lanjut. Berbeda dengan China dan Korea depresi lansia meningkat tajam. Lansia perempuan luar biasa tingginya," jelas Kepala Ekonom Bank Dunia, Phillip O'Keefe, saat acara Live Long and Prosper di Pakarti Center, Jakarta Pusat, Senin (23/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korea Selatan angka bunuh diri sangat tinggi. Di Korea Selatan angka bunuh diri tinggi karena depresi. Tapi di Indonesia lansia bahagia meskipun harus kerja," terang Phillip.
Peningkatan angka depresi ini juga disebabkan adanya risiko penyakit usia lanjut. Pemerintah juga biasanya tidak menanggung biaya jaminan kesehatan masyarakat dengan usia lanjut, sehingga mereka harus memperpanjang masa kerja meskipun sudah memasuki usia pensiun.
"Lansia punya kombinasi tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Mereka bekerja keras panjang tapi kalau di Asia siapa yang diharapkan untuk membiayai saat lansia adalah pemerintah. Ada kesenjangan antara kenyataan dan ekspektasi," kata Phillip.
Bahkan beberapa negara maju di Asia seperti Korea Selatan dan Singapura juga tidak menberikan jaminan sosial secara utuh kepada para lansia di negaranya.
"Negara-negara kata orang sudah memahami bahwa ekspektasi sudah berubah. Korea Selatan, Taiwan, Singapura negara tidak akan bisa mendukung hidup mereka seperti yang diharapkan," tutup Phillip. (wdl/wdl)











































