Angka Depresi Rendah, Pekerja RI Bahagia Meski Kerja Keras

Angka Depresi Rendah, Pekerja RI Bahagia Meski Kerja Keras

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 23 Mei 2016 14:24 WIB
Angka Depresi Rendah, Pekerja RI Bahagia Meski Kerja Keras
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, angka depresi terhadap pekerjaan di Indonesia terbilang rendah. Misalnya di China dan Korea Selatan angka depresi akibat pekerjaan terbilang cukup tinggi.

Pada umumnya, angka depresi akibat pekerjaan meningkat saat usia lanjut, yaitu pada usia di atas 55 tahun. Angka depresi lansia perempuan di China dan Korea Selatan juga terbilang sangat tinggi.

"Indonesia meskipun kerja keras mereka bahagia. Angka depresi rendah bahkan di usia lanjut. Berbeda dengan China dan Korea depresi lansia meningkat tajam. Lansia perempuan luar biasa tingginya," jelas Kepala Ekonom Bank Dunia, Phillip O'Keefe, saat acara Live Long and Prosper di Pakarti Center, Jakarta Pusat, Senin (23/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingginya angka depresi di Korea Selatan misalnya, membuat kasus bunuh diri meningkat tajam. Setiap tahunnya, terdapat ratusan kasus bunuh diri akibat depresi di Korea Selatan. Sedangkan di Indonesia, masih banyak pekerja dengan usia lanjut yang bahagia menjalani pekerjaannya.

"Korea Selatan angka bunuh diri sangat tinggi. Di Korea Selatan angka bunuh diri tinggi karena depresi. Tapi di Indonesia lansia bahagia meskipun harus kerja," terang Phillip.

Peningkatan angka depresi ini juga disebabkan adanya risiko penyakit usia lanjut. Pemerintah juga biasanya tidak menanggung biaya jaminan kesehatan masyarakat dengan usia lanjut, sehingga mereka harus memperpanjang masa kerja meskipun sudah memasuki usia pensiun.

"Lansia punya kombinasi tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Mereka bekerja keras panjang tapi kalau di Asia siapa yang diharapkan untuk membiayai saat lansia adalah pemerintah. Ada kesenjangan antara kenyataan dan ekspektasi," kata Phillip.

Bahkan beberapa negara maju di Asia seperti Korea Selatan dan Singapura juga tidak menberikan jaminan sosial secara utuh kepada para lansia di negaranya.

"Negara-negara kata orang sudah memahami bahwa ekspektasi sudah berubah. Korea Selatan, Taiwan, Singapura negara tidak akan bisa mendukung hidup mereka seperti yang diharapkan," tutup Phillip. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads