"Kurang lebih ada 1.240 ton yang diangkut 34 truk dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Ini dibeli langsung dari petani," kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono ditemui di lokasi gudang, Jakarta, Jumat (27/5/2016).
Spudnik mengatakan, selain 1.240 ton bawang merah tersebut, masih banyak stok bawang di tingkat petani yang bisa diangkut ke Jakarta untuk mengendalikan harga bila terjadi lonjakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Bima masih ada 200 ton lagi belum diangkut. Di Nganjuk masih ada 100 ton lagi. Di tempat-tempat lain masih banyak. Kalau diminta, saya (Kementerian Pertanian) masih bisa kumpulkan lebih banyak dari ini. Jadi message (pasan) saya, stok kita aman. Karena sekarang di mana-mana sedang panen," tegasnya.
Meski demikian, ada kendala dalam hal distribusi sehingga mengakibatkan masih ada lonjakan harga di pasar di saat produksi bawang merah sedang banyak.
"Memang meskipun produksi cukup, tapi ada masalah di supply. Jadi ada middle man (orang di tengah rantai distribusi). Dia yang mengendalikan pasokan ke pasar sehingga harganya bisa naik. Nah, yang dilakukan Pemerintah lewat Bulog ini adalah untuk memotong rantai itu. Supaya harga di masyarakat bisa turun," pungkas dia.
Menurut Spudnik, bawang merah yang diangkut menggunakan truk harus segera dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat penyimpanan begitu tiba di lokasi tujuan.
Bila tidak, uap yang keluar dari bawang itu sendiri akan menimbulkan kumpulan air yang bisa menyebabkan bawang di tumpukan paling bawah menjadi busuk.
"Bawang itu simpannya tidak boleh ditumpuk. Selain nanti jadi berkeringat (beruap) dan bikin busuk, kalau ditumpuk nanti bawang yang paling bawah akan rusak karena menahan beban berat," jelas dia.
(dna/ang)











































