Tahun ini, pengalokasian PMN sendiri hanya akan diberikan kepada BUMN yang memiliki penugasan khusus dari pemerintah. Lalu bagaimana tanggapan Angkasa Pura II (AP II) selaku BUMN yang saat ini sedang sibuk melakukan pembenahan terhadap bandara-bandaranya?
"PMN selalu kita nanti dan harapkan. Karena dengan adanya PMN membuat struktur modal dari perusahaan kita bertambah bagus. Sehingga kita punya kemampuan untuk bisa minjam dan sebagainya," kata Budi Karya Sumadi, Direktur AP II di Restoran Cawan Putih, Jakarta Pusat, Selasa (31/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini kita hanya mendapatkan sumber dana dari bank dan lembaga non bank. Kita dapat kurang lebih masing-masing Rp 2-4 triliun dan bisa di-extend sampai Rp 6 triliun. Kami harus punya alternatif lain, hari Kamis atau Jumat ini kita akan mengajukan obligasi," tambahnya.
AP II sendiri telah mendapatkan rating AAA dari Pefindo dan Fitch rating. Dengan rating tersebut perusahaan bisa mendapatkan bunga yang lebih kompetitif.
"Kalau kita sekarang mendapatkan bunga 9,5%, mungkin nanti bisa mendapatkan pengurangan bunga menjadi 9% atau 8,75%. Dengan bunga yang kecil ini kita mendapatkan ruang untuk menambah pinjaman sebagai kompensasi terhadap tidak diperolehnya PMN," imbuhnya.
"Jadi plan B yang kita lakukan adalah mempersiapkan AP II sebagai perusahaan public company. Tapi tahap awal kita lakukan dengan obligasi. Jadi apabila plan A PMN tidak ada, maka kita pergunakan ini. Kita bisa dapat dana lebih murah, dan suatu waktu mau expand lagi, katakanlah kita harus membangun terminal 4 kita bisa melalukan go public. Sehingga dana yang kita butuhkan tidak lagi dari pemerintah," paparnya.
Sebagai informasi, Angkasa Pura akan menerbitkan obligasi Rp 2 triliun Juni mendatang. Danareksa dan Mandiri Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi atau underwriter.
Sementara tenor yang ditetapkan adalah 5, 7, dan 10 tahun, dengan kupon obligasi yang akan ditentukan kemudian. (ang/ang)











































