Lembong mengungkapkan, Indonesia 'baru' meneken 10 FTA, jauh lebih sedikit dibanding Malaysia yang sudah punya 18 FTA, Filipina 16 FTA, dan Singapura 26 FTA.
"Dari sisi perdagangan, topik hari ini yang harus saya highlight adalah, harus diakui kita sangat ketinggalan dibanding negara saingan kita soal FTA. Misalnya Singapura punya 26 FTA, Thailand, Filipina punya 15-16 FTA, Malaysia 18, Indonesia hanya punya 10 FTA. Kita harus mengejar ketertinggalan," kata Tom dalam diskusi di Rakernas Kadin Bidang Hubungan Internasional, Jakarta, Rabu (1/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini Indonesia harus menggenjot ekspor produk manufaktur. Maka perlu banyak FTA untuk membuka akses pasar bagi produk-produk manufaktur Indonesia.
"Negara yang kaya komoditas cenderung nggak terlalu giat menggalang FTA. Justru saat (harga) komoditas lagi booming, negara seperti Thailand, Vietnam justru sedang giatnya mengembangkan FTA. Sekarang roda berputar, (harga) komoditas di bawah, kita belum siap. Negara yang dulu tidak menikmati komoditas sekarang sangat siap. Kita harus mengejar ketertinggalan," paparnya.
Vietnam, negara tetangga Indonesia yang rajin meneken FTA, disebut Tom sebagai negara yang patut dicontoh Indonesia.
"Dahsyatnya Vietnam, mereka merampungkan CEPA dengan Uni Eropa yang sekarang kita baru mulai negosiasinya. Mereka justru sudah selesai. Dan mereka juga 12 anggota pendiri TPP. Dengan FTA, Vietnam punya akses bebas ke Eropa, Amerika Utara. Sementara kita di tarif saja bisa kalah 10-12% (dari Vietnam)," ucapnya.
Kalau Vietnam dan Filipina saja berani bersaing di pasar bebas, sambungnya, harusnya Indonesia juga bisa.
"Vietnam saja bisa masa kita nggak bisa? Filipina saja bisa masa kita nggak bisa? Saya sih percaya diri, kita bisa karena Vietnam dan Filipina saja bisa," tutup Lembong. (ang/ang)










































