Lembong menyebut PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebagai contoh hasil persaingan keras. Dahulu pelayanan Garuda buruk karena saingannya sedikit.
Ketika maskapai-maskapai baru bermunculan, Garuda sempat bangkrut. Tapi akhirnya Garuda bangkit dan berhasil menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia, itu berkat persaingan bebas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, industri di Indonesia perlu dipaksa untuk meningkatkan daya saingnya. "Misalnya kita mau ekspor buah ke Eropa, ada standar higienis, pengecekan, kebersihan yang harus kita patuhi. Tapi itu akan memicu reformasi internal, membangun keahlian itu untuk mensanitasi, mensortir, mencuci, mengemas sesuai standar yang berlaku di negara-negara itu. Itu akan memaksa menaikkan standar kita, menuju standar di negara paling maju," tandasnya.
Saat ini kebanyakan, ekspor buah Indonesia ke Eropa harus melalui Thailand dulu untuk dikemas ulang. Alasannya sederhana, Thailand punya teknologi sanitasi dan Indonesia belum punya. Hal-hal seperti ini perlu didorong untuk diperbaiki lewat perdagangan bebas.
"Perlu pembenahan internal yang akan dipicu oleh kesempatan kita di perdagangan internasional. Ketertinggalan juga berarti peluang," pungkasnya. (ang/ang)











































