Tom Lembong: Perdagangan Bebas Mendongkrak Kualitas

Tom Lembong: Perdagangan Bebas Mendongkrak Kualitas

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 01 Jun 2016 14:30 WIB
Tom Lembong: Perdagangan Bebas Mendongkrak Kualitas
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Menteri Perdagangan Thomas Lembong terus mendorong Indonesia untuk memasuki berbagai perjanjian perdagangan bebas, misalnya Trans Pacific Partnership (TPP). Menurutnya, kompetisi yang keras akan memaksa industri di Indonesia meningkatkan daya saingnya.

Lembong menyebut PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebagai contoh hasil persaingan keras. Dahulu pelayanan Garuda buruk karena saingannya sedikit.

Ketika maskapai-maskapai baru bermunculan, Garuda sempat bangkrut. Tapi akhirnya Garuda bangkit dan berhasil menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia, itu berkat persaingan bebas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu hanya ada 3 airlines, harga karcis tinggi, pilihan nggak banyak. Kemudian kita buka dari 3 airlines jadi 70 airlines. Harga karcis turun drastis, rute tambah banyak, kompetisi sengit. Garuda bangkrut dua kali, tapi sekarang Garuda menjadi salah satu dari 7 airlines terbaik dunia. Itu karena dipaksa bersaing, jadi terpaksa dia efisiensi dan membenahi internalnya. Dengan membuka diri, maka kompetisi itu akan mendongkrak kualitas, produksi, dan pelayanan," paparnya.

Menurut dia, industri di Indonesia perlu dipaksa untuk meningkatkan daya saingnya. "Misalnya kita mau ekspor buah ke Eropa, ada standar higienis, pengecekan, kebersihan yang harus kita patuhi. Tapi itu akan memicu reformasi internal, membangun keahlian itu untuk mensanitasi, mensortir, mencuci, mengemas sesuai standar yang berlaku di negara-negara itu. Itu akan memaksa menaikkan standar kita, menuju standar di negara paling maju," tandasnya.

Saat ini kebanyakan, ekspor buah Indonesia ke Eropa harus melalui Thailand dulu untuk dikemas ulang. Alasannya sederhana, Thailand punya teknologi sanitasi dan Indonesia belum punya. Hal-hal seperti ini perlu didorong untuk diperbaiki lewat perdagangan bebas.

"Perlu pembenahan internal yang akan dipicu oleh kesempatan kita di perdagangan internasional. Ketertinggalan juga berarti peluang," pungkasnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads