"Produksi jagung naik terus, impor turun 50%. Kami targetkan mudah-mudahan paling lambat 2018 nggak ada impor lagi," ujar Amran, ditemui di pabrik pakan ternak PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) di Balaraja, Tangerang, Banten, Rabu (1/5/2016).
Amran melanjutkan, dirinya tak main-main dengan target tersebut. Bahkan, dirinya mengupayakan swasembada bisa dipercepat setidaknya di 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun depan nol (impor). Tak apa pahit-pahit tapi ujungnya manis, daripada manis pahit manis pahit terus. Anda (pengusaha pakan) nikmati bisnis, tapi ada yang menangis di gunung (petani jagung)," kata dia.
Menteri ini menyebut, pihaknya terus menggenjot produksi jagung dalam negeri, salah satunya lewat program integrasi sawit-jagung. Tahun ini, ditargetkan ada tambahan 1 juta hektar lahan dari integrasi tersebut.
"Tahan impor (jagung) itu salah, kita lakukan dengan penambahan anggaran. Kita akselerasi dengan integrasi sawit dan jagung di 1 juta hektar lahan," tandas Amran.
Dia menjelaskan, saat ini rata-rata harga jagung di tingkat petani yang diserap perusahaan pakan ternak dihargai paling rendah Rp 3.150/kg.
"Sampai di sini (perusahaan pakan ternak) dibeli jagung Rp 3.900/kg. Terakhir beli Rp 3.300/kg, tolong jaga itu. Nggak boleh harga petani di bawah Rp 3.150/kg," tutup Amran. (wdl/wdl)











































