Menko Perekonomian, Darmin Nasution, punya ide untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan aplikasi digital. Aplikasi digital yang diperlukan adalah yang bisa membuat petani mengetahui jaringan pasar, sehingga tak perlu menjual lewat perantara.
"Jaringan yang mahal dan panjang ini sangat mudah digantikan oleh jaringan yang efisien pakai aplikasi. Penting itu, supaya kalau panen pakai aplikasi sistem, petani tahu mau jual ke mana, tinggal telepon bilang mau panen, kalau deal pembeli tinggal datang," kata Darmin, dalam diskusi di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu akan mengangkat posisi tawar petani. Orang pakai handphone bisa lihat mana pengepul yang terdekat ada di mana saja dan harganya. Kalau deal bisa dilanjutkan, kalau tidak deal ya bisa cari daftar selanjutnya (di aplikasi digital)," tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, mengungkapkan perlu perbaikan dari sisi hulu untuk menurunkan harga bawang merah. Panjangnya rantai pasokan bawang merah dari petani sampai ke pasar, disebut sebagai penyebab utama mahalnya bawang merah di tingkat konsumen.
"Harus diperbaiki dari di hulunya. Jangan pedagang pasar disudutkan, kita hanya di ujung saja. Rantai pasokan dari petani sampai ke pasar harus dipotong, itu panjang sekali," kata Mansuri, beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, bawang merah harus melewati 5 mata rantai sebelum sampai ke pedagang pasar. Yaitu dari petani, lalu ke pengepul di daerah, ke pedagang besar, pedagang pasar induk, baru ke pedagang pasar kecil. "Jadi ada 5, ini yang membuat jadi mahal," ujarnya (wdl/wdl)











































