Harga Batu Bara Dunia Tinggi, Purnomo Minta UBC Dikembangkan
Senin, 21 Mar 2005 15:17 WIB
Jakarta - Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro meminta agar up graded brown coal (UBC) segera dikembangkan mengingat harga batu bara internasional saat ini sedang tinggi yakni mencapai US$ 50 per ton. "Saat ini baru pilot plan yang akan dikembangkan menjadi industry plan tahun 2006 dan komersial pada tahun 2010," kata Purnomo disela-sela acara di Hotel Sari Pan Pacifik, Jalan H Thamrin, Jakarta, Senin (21/3/2005).UBC merupakan teknologi untuk meningkatkan kadar batu bara dari low range 3500-5000 kilo kalori per kg menjadi high range 6000-6800 kilo kalori per gram. Sementara produksi batu bara Indonesia yang mencapai 150 juta ton per tahun, sebanyak 70 persen diekspor dan 30 persen untuk kebutuhan dalam negeri yakni PLN, industri tekstil dan kereta api dan ke depan juga untuk diversifikasi BBM. Purnomo menjelaskan, harga beli batu bara low range saat ini mencapai US$ 10-15 per ton dengan biaya pemrosesan US$ 7-9 per ton sehingga harga berkisar di US$ 25 per ton. "Harga itu masih rendah. Jadi batu bara kita masih bisa kompetisi dengan batu bara internasional," tegas PurnomoSementara ketua Teknologi Mineral dan batu bara Lobo Balia mengatakan, investasi pengembangan UBC diperkirakan mencapai US$ 30 juta untuk produksi 1000 ton per hari. Lobo Balia menambahkan, teknlogi ini merupakan hasil kerjasama dengan Jcoal yang merupakan sebuah lembaga penelitian Jepang. Namun ia mengakui, teknologi UBC sejauh ini belum mendapat perhatian dari investor. "Untuk pengembangan UBC investor belum ada yang berminat," tegasnya.Ia menjelaskan, saat ini pihaknya sudah mendesain pilot plan, yang akan diselesaikan dalam dua tahun dan untuk testing selama satu tahun dengan lokasi di Palimanan. Khusus untuk Sumatera dan Kalimantan saat ini sudah selesai testingnya.
(qom/)











































