Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, mengungkapkan secara hitungan-hitungan, daging sapi bisa turun di bawah Rp 80.000/kg. Syaratnya selain penambahan stok dari impor, juga ada penurunan konsumsi daging sapi.
"Saya kira tergantungnya banyak. Kebutuhan tergantung ketersediaan. Selama suplai mencukupi, harga terjangkau. Yang kita lihat kemudian, dampak kenaikan harga yang terus terjadi dari 2013," jelas Sasmito ditemui di acara diskusi Rasionalitas Harga Daging Sapi, Cikini, Jakarta, Jumat (3/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan, sejak 3 tahun belakangan, konsumsi daging sapi sendiri terus mengalami penurunan.
"Ini konsumsi di rumah tangga, restoran, hotel, katering, dan industri. Jumlah konsumsi tahun 2013 700.000 ton, tahun 2014 600.000 ton, tahun 2015 turun," jelas Sasmito.
Menurutnya, melambungnya harga yang lumrah terjadi saat puasa dan Lebaran selalu terjadi karena lonjakan permintaan dan stok yang terbatas. Artinya, dengan tambahan stok dari impor, bisa terjadi tren penurunan harga.
"Perkembangan harga sapi 2013-2016, itu ada periode Ramadan daging sapi jadi bukit (mahal). Tiap tahun begitu dan paling tajam 2015, waktu itu membatasi impor, sedikit sekali (stok daging), jadi harga melonjak," pungkas Sasmito. (drk/drk)











































