Bisakah Daging Sapi di Bawah Rp 80.000/Kg? Begini Hitung-hitungan BPS

Bisakah Daging Sapi di Bawah Rp 80.000/Kg? Begini Hitung-hitungan BPS

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 03 Jun 2016 19:07 WIB
Bisakah Daging Sapi di Bawah Rp 80.000/Kg? Begini Hitung-hitungan BPS
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Lewat pembukaan keran daging impor secondary cut sebesar 27.400 ton, pemerintah berharap harga daging sapi bisa turun hingga di bawah Rp 80.000/kg saat memasuki bulan Ramadan. Saat ini harga daging di pasar dibanderol Rp 110.000-130.000/kg.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, mengungkapkan secara hitungan-hitungan, daging sapi bisa turun di bawah Rp 80.000/kg. Syaratnya selain penambahan stok dari impor, juga ada penurunan konsumsi daging sapi.

"Saya kira tergantungnya banyak. Kebutuhan tergantung ketersediaan. Selama suplai mencukupi, harga terjangkau. Yang kita lihat kemudian, dampak kenaikan harga yang terus terjadi dari 2013," jelas Sasmito ditemui di acara diskusi Rasionalitas Harga Daging Sapi, Cikini, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Naik harga diiringi penurunan konsumsi kita. Nampaknya lari ke ayam dan daging, tapi harga ayam dan ikan stabil 2 tahun belakangan, ayam Rp 28.000-30.000/kg. Jadi dampak kenaikan harga sapi ialah penurunan konsumsi. Kita lihat paling turun rumah makan, sudah jadi substitusi ke ayam dan ikan," tambahnya.

Dia menyebutkan, sejak 3 tahun belakangan, konsumsi daging sapi sendiri terus mengalami penurunan.

"Ini konsumsi di rumah tangga, restoran, hotel, katering, dan industri. Jumlah konsumsi tahun 2013 700.000 ton, tahun 2014 600.000 ton, tahun 2015 turun," jelas Sasmito.

Menurutnya, melambungnya harga yang lumrah terjadi saat puasa dan Lebaran selalu terjadi karena lonjakan permintaan dan stok yang terbatas. Artinya, dengan tambahan stok dari impor, bisa terjadi tren penurunan harga.

"Perkembangan harga sapi 2013-2016, itu ada periode Ramadan daging sapi jadi bukit (mahal). Tiap tahun begitu dan paling tajam 2015, waktu itu membatasi impor, sedikit sekali (stok daging), jadi harga melonjak," pungkas Sasmito. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads