Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yaitu Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU HPT) Baturraden dilaksanakan penyebaran bibit sapi perah bersertifikasi ke beberapa wilayah di antaranya Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur pada Sabtu pekan lalu.
Menurut data statistik peternakan tahun 2015, saat ini Indonesia memiliki populasi sapi perah sekitar 525,1 ribu ekor dengan produksi 805,4 ton susu segar. Dilihat dari distribusi produksi susu tersebut ternyata 99,31% dihasilkan di Pulau Jawa, sedangkan di Sumatera dan Sulawesi berkontribusi masing-masing sebesar 0,34% sedangkan Kalimantan 0,10% dan Kepulauan Bali, NTT, NTB sebesar 0,02%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendekatan dari sisi konsumsi yakni sosialisasi pentingnya pemenuhan konsumsi susu bagi masyarakat, diharapkan tren peningkatan konsumsi dapat sebagai peningkat produksi dalam menyediakan pangan susu tersebut.
Namun jika upaya peningkatan produksi sangat lambat, maka yang terjadi adalah membesarnya gap antara produksi dalam negeri dan impor semakin besar.
Menurut catatan BPS 2015, Indonesia termasuk negara pengimpor susu sebanyak 265 ribu ton. Impor susu sebagian besar dalam bentuk susu bubuk dan condensed/evaporated milk, sehingga budaya minum susu segar di Indonesia dinilai belum berkembang baik.
Impor sudah melampaui 80% untuk pemenuhan kebutuhan susu nasional, sehingga dikhawatirkan akan dapat mendorong Indonesia masuk dalam food trap impor (jebakan impor pangan) dan ketergantungan akan impor produk susu semakin membesar.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Muladno, berharap pendekatan sisi produksi sangat diperlukan. Upaya peningkatan populasi sapi perah sebagai penghasil utama susu diperlukan trobosan-trobosan seperti yang dilakukan oleh BBPTU HPT Baturraden.
"Sangat penting sekali pendekatan sisi produksi, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan populasi sapi perah sebagai penghasil utama susu, perlu adanya terobosan yang sangat signifikan (jump frog). Salah satunya pendistribusian sapi perah bersertifikat," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (6/6/2016).
Sapi perah bersertifikat tersebut disebar ke tiga wilayah yaitu, ke Jawa Timur di UPTD Tuban sebanyak 5 ekor, ke Jawa Barat di SPR Tegar Beriman Bogor sebanyak 5 ekor dan ke Jawa Tengah di Koperasi Pesat Banyumas juga sebanyak 5 ekor.
Sapi yang didistribusikan merupakan dara bunting dengan usia berkisar antara 22 - 23 bulan. Sebelum didistribusikan semua sapi tersebut telah melewati uji kesehatan di laboratorium dan dinyatakan bebas penyakit.
Sapi-sapi yang dikirim mampu memproduksi susu pada saat laktasi berkisar antara 5.000-6.000 liter per laktasi.
Kepala BBPTU HPT Baturraden, Sugiono mengatakan pendistribusian ternak sapi perah bersertifikat merupakan salah satu cara upaya pemerintah meningkatkan populasi sapi perah di masyarakat.
Distribusi sapi perah ini merupakan salah satu dari tupoksi BBPTU HPT Baturraden sebagai unit pelaksana teknis untuk perbibitan sapi perah di Indonesia.
"Ini merupakan cara kita terus mendorong peningkatan populasi sapi perah. Salah satunya dengan pendistribusian sapi perah yang bersertifikat. Juga sesuai dengan tupoksi BBPTU HPT Baturraden," ungkapnya.
Sebelumnya BBPTU HPT Baturraden telah memperoleh Sertifikat Produk Pengguna Tanda SNI (SPPT SNI) dari Lembaga Sertifikasi Produk Benih dan Bibit Ternak pada acara puncak Hari Susu Nusantara di Malang (2/6).
Hal ini membuktikan bahwa produk-produk yaitu ternak sapi perah yang dihasilkan telah mendapatkan sertifikasi SNI.
(ang/ang)











































