Menurut Menteri Keuangan, Bambang Bambang Brodjonegoro, hingga akhir tahun setidaknya ada 3 isu utama yang perlu diwaspadai karena masih menjadi ancaman bagi perekonomian nasional.
Demikian disampaikannya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (6/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, ekonomi Indonesia pun bakal ikut melambat pertumbuhannya akibat kondisi di China. "Itu akan berdampak pada ekonomi kita, karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia terutama ekspor komoditas. Perlambatan ini akan membuat permintaan komoditas mentah kita melemah dan berpengaruh ke negara lain juga," kata Bambang.
Kedua, lanjut dia, masih rendahnya harga komoditas strategis di pasar global. Hal ini menjadi perhatian khusus lantaran barang ekspor asal Indonesia umumnya merupakan barang mentah yang belum bernilai tambah sehingga dikhawatirkan penurunan harga komoditas akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
"Ini akan berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar dan mencakup hampir ke semua komoditas, dan juga harga minyak bumi yang membuat harga komoditas lain sulit bergerak," sambung dia.
Dan ketiga, lanjut Bambang, masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap dana asing. Dana asing ini rawan keluar dari sistem keuangan di tanah air bila ada isu kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) alias Fed Rate.
"Apakah menaikan 1 kali atau 2 kali. Ini akan berpengaruh pada arus modal ke negara emerging, termasuk Indonesia," pungkas dia.
Adapun rapat kali ini sendiri dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Kepala BPS Suryamin, Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil dan sejumlah pejabat lainnya, dengan agenda membahas kelanjutan usulan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016. (dna/ang)











































