Dua Bulan Terakhir, Subsidi BBM Capai Rp 15 Triliun
Senin, 21 Mar 2005 17:52 WIB
Jakarta - Menkeu Jusuf Anwar mengaku pemerintah kesulitan mengubah asumsi harga minyak dalam asumsi APBNP yang dipatok 35 dolar AS/barel. Pasalnya, harga minyak dunia maupun harga minyak mentah Indonesia sudah sangat tinggi.Kondisi ini mengakibatkan selama dua bulan terakhir defisit subsidi BBM sudah mencapai Rp 15 triliun."Sekarang Indonesian Crude Price (ICP) sudah 44 dolar AS/barel. Biasanya perbedaan dengan harga minyak mentah dunia 4 dolar AS/barel. Kita selama dua bulan ini, realitas defisit subsidi sudah Rp 15 triliun," kata Menkeu di Gedung Depkeu, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Senin, (21/3/2005).Menkeu mengatakan, besaran defisit subsidi sebesar Rp 15 triliun bukan itung-itungan dengan menggunakan asumsi, namun sudah mejadi realisasi."Itu bukan omong kosong, itu bukan itung-itungan asumsi. Itu sudah realitas, dua bulan saja sudah Rp 15 triliun apalagi kalau setahun," kata Menkeu.Ditambahkan Menkeu, dengan realitas defisit yang tinggi tersebut, maka dipastikan target pemberian subsidi BBM sebesar Rp 19 triliun dalam APBN sebelumnya perlu diubah karena tidak mungkin tercapai lagi.Menyangkut harga minyak yang dipatok 35 dolar AS/barel, menurutnya, merupakan harga yang paling cocok berdasarkan perhitungan ahli perminyakan."35 dolar AS/barel itu yang paling cocok menurut ahli minyak karena saya bukan tukang jual minyak. Saya hanya penjaga gawang," katanya.Oleh karena itu, lanjut Menkeu, pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya perhitungan asumsi harga minyak dalam APBN kepada DESDM. "Untuk menentukan harga minyak itu 35 dolar AS/barel atau berapa kita serahkan kepada ahlinya yaitu DESDM," kata dia.
(umi/)











































