Harga Daging Masih Rp 120.000/Kg, Ini Penjelasan KPPU

Harga Daging Masih Rp 120.000/Kg, Ini Penjelasan KPPU

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 07 Jun 2016 19:22 WIB
Harga Daging Masih Rp 120.000/Kg, Ini Penjelasan KPPU
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Harga daging sapi di DKI Jakarta dan sekitarnya saat ini dijual Rp 120.000/kg. Harga ini bertahan sejak beberapa bulan lalu meskipun pemerintah sudah mendatangkan sapi dari memakai kapal ternak dan membuka keran impor untuk daging sapi beku.

Lantas kenapa harga daging sapi masih tinggi?

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut panjangnya rantai distribusi pada berbagai macam komoditas pangan di Indonesia menyebabkan harga pada komoditas seperti daging sapi melambung sampai di konsumen. Adanya praktik mafia atau kartel juga menambah persoalan distribusi dan harga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di komoditas pangan kita itu masalahnya tidak mudah. Apalagi rantai distribusi yang begitu panjang sudah lama. Penyederhanaan rantai distribusi ini juga akan menghilangkan potensi income bagi sebagian orang. Kalau mereka dipotong rantai distribusinya pendapatan mereka mau nyerap kemana? Sehingga ini memang tidak mudah. Perlu waktu yang jangka menengah panjang," kata Ketua KPPU, Syarkawi Rauf di Gedung KPPU, Jakarta, Selasa (07/06/16).

Syarkawi menyontohkan ketika dirinya berkunjung ke Makassar beberapa minggu lalu. Di sana, harga daging sapi lokal pada 3 minggu sebelum puasa dijual sekitar Rp 90.000/kg.

Dengan jarak tidak jauh, harga di peternak masih sekitar Rp 75.000/kg atau paling murah Rp 70.000/kg. Ongkos margin yang diambil oleh pedagang, ditambah dengan biaya-biaya lain membuat harga daging sapi di end user menjadi Rp 90.000/kg.

Bila distribusi dipangkas, Syarkawi menilai harga daging di bawah Rp 80.000/kg seperti ditargetkan oleh pemerintah sebenarnya dapat tercapai.

"Keuntungan tidak wajar itu hanya bisa dicapai dengan cara melakukan praktek bisnis yang tidak sehat/kartel. Jadi dimana margin yang terlalu tinggi kemungkinan besar di situ terjadi titiknya," pungkasnya.


(feb/feb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads