ADVERTISEMENT

Awalnya Iseng, Pengusaha Ini Bisa Kantongi Rp 6 M/ Bulan dari Bisnis Lada Putih

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Rabu, 08 Jun 2016 13:07 WIB
Foto: Ardan Adhi Chandra
Tanjung Pandan - Lada merupakan komoditas rempah unggulan asal Kepulauan Bangka Belitung yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Pohon lada tumbuh merambat hingga ketinggian 4 meter dengan ditopang oleh pohon lain atau memakai tiang.

Detikfinance bersama rombongan Bank Mandiri berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pengepul lada di Air Raya, Tanjung Pinang, Kabupaten Belitung. Gudang penyimpanan milik Poniman terletak di pinggir Jalan Air Raya, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Dalam gudang penyimpanan terdapat puluhan karung lada putih dengan bobot hingga ratusan kilogram (kg). Sedikit berjalan ke belakang gudang penyimpanan juga terdapat kebun lada dengan luas kurang lebih 500 meter persegi yang setiap tahunnya dipanen.

Poniman sebagai pemilik kebun lada dan juga seorang pengepul mengaku memulai bisnisnya dari keisengannya 15 tahun lalu memulai bisnis rempah putih ini. Untuk panen perdana paling lama dibutuhkan waktu 3 tahun. Setelah itu lada dapat dipanen kembali sampai 5 tahun ke depan.

"Iseng aja ada tanah jadi ditanamin. 3 tahun maksimal, tergantung tanahnya cocok nggak gitu. Kalau bagus bisa 5 atau 6 kali panen," jelas Poniman saat dikunjungi rombongan Bank Mandiri, Tanjung Pinang, Kabupaten Belitung, Rabu (8/6/2016).

Hasil panen dari satu hektar lahan produktif lada di Belitung bisa mencapai 2.000 kg. Sedangkan harga per kg lada putih dihargai Rp 150.000.

"Satu pohon kalau bagus bisa 2 kg, satu hektar bisa 2.000 kilogram kg. 1 kg lada putih bisa Rp 150.000 tergantung bergerak terus," kata Poniman.

Selain dari hasil kebunnya, lada putih juga didapatkan dari para petani dan pedagang besar yang menjual ke dirinya.

"Kita dapat dari pedagang besar atau petani baru dikirim ke Bangka atau diekspor ke Eropa paling banyak. petani bawa 1 kg kita beli, kalau pedagang besar sampai berapa ton juga kita beli," tambah Poniman.

Harga komoditas rempah khas Belitung terus bergerak mengikuti nilai tukar dolar. Hal ini terjadi karena 70% produksi lada putih di Belitung diekspor ke beberapa negara di Eropa dan sebagian Asia. Ekspor lada putih juga dikirim melalui pelabuhan di Batam.

"Nggak tentu, lada itu per jam berdasarkan dolar karena buat diekspor. Ekspor dari pelabuhan di Bangka pakai kapal masuk ke kontainer," tutur Poniman.

Ekspor lada putih ke Eropa tidak pernah ada habisnya karena hasil panen lada yang melimpah. Selain itu, kualitas lada yang semakin lama disimpan di gudang juga semakin bagus sehingga tidak mengurangi nilai ekonomis dari lada putih.

Dari profesinya sebagai pemasok lada di Tanjung Pandan, Poniman bisa mengantongi omzet hingga Rp 6 miliar saat musim panen tiba sepanjang bulan Juli sampai Oktober.

"Bisa 40 sampai 50 ton per bulan. Kalau 40 ton Rp 6 miliar sampai," tutup Poniman. (hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT