Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi ke 5,1%, Darmin: Kita Melawan Arus

Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi ke 5,1%, Darmin: Kita Melawan Arus

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 08 Jun 2016 13:27 WIB
Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi ke 5,1%, Darmin: Kita Melawan Arus
Foto: Maikel-detikFinance
Jakarta - Pemerintah menurunkan target pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1% pada 2016. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, target pertumbuhan ekonomi adalah 5,3%.

"Tadinya 5,3% sekarang 5,1% setelah mempertimbangkan semua itu kita masih melihat, kita masih bisa mencapai 5,1%," kata Menko Perkonomian Darmin Nasution, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Hal ini melihat perkembangan ekonomi global yang masih melambat. Beberapa lembaga internasional menurunkan proyeksi dengan sangat jauh. Seperti Bank Dunia yang menurunkan proyeksi 2,9% menjadi 2,4%. Hanya India yang mampu tumbuh 7,6% dan China pada kisaran 6,7%. Rusia dan Brazil masih dalam resesi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Darmin, dengan tumbuh 5,1%, maka sudah mampu melawan arus perlambatan ekonomi global.

"Itu sudah melawan arus yang ada. Arus yang ada itu kan melambat," tegas Darmin.

Optimisme Darmin melihat realisasi pada kuartal I-2016 yang sebesar 4,92%. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, ekonomi tumbuh 4,7% dan terus naik sampai menyentuh 5,04% pada kuartal IV. Sementara selama 2015 tercatat mencapai 4,8%.

"Sekarang kita mulainya 4,9% di kuartal satu, berakhir berapa? Kita tentu berharap berakhir di 5,2%, sehingga rata-ratanya 5,1%," paparnya.

Konsumsi tetap menjadi pendorong utama ekonomi tahun ini. Meskipun pada kuartal I, realisasinya di bawah 5%. Menurut Darmin, seiring dengan percepatan belanja pemerintah dan insentif untuk peningkatan daya beli masyarakat serta penjagaan inflasi, konsumsi masyarakat akan kembali tumbuh tinggi.

"Karena kita memang dengan penduduk relatif muda itu membuat konsumsi relatif tinggi. Misalnya, yang agak turun itu kuartal lalu, kuartal satu konsumsi 4,94% dari 5%, ya itu saja turunnya. Jangan membayangkan konsumsi turun dari 5% ke 3%, itu tidak mungkin," paparnya.

"Jadi yang penting ada pengimbangnya, investasi swasta dan pengeluaran pemerintah. Itu saja. Jadi selama itu dikombinasi dengan konsumsi. Pertumbuhan itu bukan hanya karena konsumsi," tegas Darmin. (mkl/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads