Salah satunya yang menjadi persoalan adalah soal pendanaan. Untuk wilayah Jabodetabek, proyek LRT akan dibiayai menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara di dalam kota Jakarta ditanggung oleh APBD.
"LRT yang di DKI itu dibangun oleh Gubernur DKI, kalau yang lintas Provinsi (Jabodetabek) pakai APBN ini akan diteruskan," ungkap Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/6/2016)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau misalnya harga keekonomiannya dipandang terlalu tinggi maka akan disiapkan PSO (Public Service Obligation) oleh Pemprov DKI ini untuk Jabodebek," jelasnya.
Berbeda dengan Jabodetabek dan Jakarta, LRT Bandung raya akan dibangun dan dibiayai oleh swasta. Pemerintah pusat hanya berperan dalam pemberian subsidi tarif untuk menjamin harga tiket dapat dijangkau.
"LRT Bandung akan dibangun oleh swasta, kalau nanti harga keekonomian tiketnya dipandang mahal maka pemerintah pusat akan siapkan PSO atau subsidi untuk yang sama digunakan format oleh kereta perkotaan," paparnya
LRT Palembang, kata Jonan, tidak ada permasalahan yang terlalu serius. Hanya perlu revisi Peraturan Presiden (Perpres) terkait pembangunan LRT. Proyek LRT yang diperuntukkan menyambut Asian Games 2018 dibiayai oleh APBN.
"Kalau untuk Palembang diteruskan seperti biasa, tinggal revisi Perpres masalah pengoperasian," imbuhnya. (mkl/feb)











































