Apalagi harga daging segar di pasar-pasar masih tinggi, mencapai Rp 120.000/kg. Sementara daging beku impor dari Australia dijual di kisaran Rp 80.000/kg.
Ketua Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Gardjita Budi mengatakan hal ini disebabkan mayoritas masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa dengan kualitas daging beku, dan selama ini terbiasa dengan daging yang baru dipotong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut Gardjita, kualitas daging beku tidak berbeda dengan daging lokal yang baru saja dipotong. Daging impor dinilailebih higienis karena sudah melewati berbagai proses penanganan yang baik.
"Preferensi masyarakat yang lebih memilih daging hangat dibanding daging beku. Padahal daging beku memiliki kehigienisan yang lebih baik dari daging yang baru dipotong," ucapnya.
Menurut Gardjita, pemerintah akan mencoba mengedukasi masyarakat agar tidak lagi salah persepsi mengenai daging beku. Setidaknya ada tiga keuntungan yang didapatkan dengan memilih daging sapi beku.
"Kita akan coba masyarakat untuk suka dengan daging beku. Karena setidaknya ada tiga keuntungan yang didapat dari daging beku itu. Yang pertama itu lebih higienis, yang kedua itu lebih tahan lama dan yang ketiga, itu lebih murah," pungkasnya. (ang/ang)











































