Harga Pangan Mahal, Mendag Sebut Pemicunya Rantai Distribusi

Harga Pangan Mahal, Mendag Sebut Pemicunya Rantai Distribusi

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Jumat, 10 Jun 2016 14:50 WIB
Harga Pangan Mahal, Mendag Sebut Pemicunya Rantai Distribusi
Foto: Mendag Tom Lembong meninjau pasar (Rachman Haryanto/Detik)
Jakarta - Semakin tingginya harga pangan jelang Lebaran layaknya cerita yang terus berulang setiap tahunnya. Selain karena meningkatnya permintaan kebutuhan pangan saat puasa dan jelang Jebaran, panjangnya rantai distribusi juga menjadi masalah yang tak kunjung ditemukan jalan keluarnya.

Hal ini diakui oleh Menteri Perdagangan, Thomas Lembong (Tom Lembong).

"Jadi memang kami di Kementerian Perdagangan mengakui bahwa sistem distribusi rantai pasok masih belum optimal jadi Pak Presiden mengingatkan negara-negara tetangga aja bisa kita kok nggak bisa. Jadi harus meniru negara-negara tetangga yang sistem distribusinya efisien dan nggak perlu lewat sistem berlapis-lapis sehingga menambah ongkos," kata Tom Lembong di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (10/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengurangi campur tangan berbagai pihak dalam pendistribusian pangan, pihaknya menyebutkan bahwa dibutuhkan teknologi informasi yang mampu menampilkan harga pangan terkini alias real time kepada masyarakat.

"Itu membutuhkan sarana dan informatika, transparansi harga sehingga orang bisa lihat dan perlu edukatif ke masyarakat," ujar Lembong.

Selain itu, pemerintah juga direpotkan dengan tingginya permintaan masyarakat terhadap suatu komoditas jenis tertentu. Sebaliknya, persediaan di pasar tidak mampu mengikuti permintaan seperti daging sapi. Alhasil, masyarakat perlu diberikan pemahaman lebih dalam mengenai pasokan pangan yang setiap waktunya bisa berubah.

"Seperti kelakuan-kelakuan masyarakat ngotot harus daging segar dan nggak mau daging beku, atau harus bawang Brebes dan nggak mau bawang yang lain. Itu kan sebenarnya nggak rasional, jadi itulah pekerjaan rumah kami. Rantai pasok dan konsumen cerdas supaya bisa menciptakan pasar yang rasional dan efisien," tutur Lembong. (feb/feb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads