Jawab Keheranan Mentan, Pedagang: Gairah Konsumsi Masyarakat Meningkat saat Puasa

Jawab Keheranan Mentan, Pedagang: Gairah Konsumsi Masyarakat Meningkat saat Puasa

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Minggu, 12 Jun 2016 15:20 WIB
Jawab Keheranan Mentan, Pedagang: Gairah Konsumsi Masyarakat Meningkat saat Puasa
Foto: Operasi pasar yang digelar Kementan (Rachman Haryanto/Detik)
Jakarta - Konsumsi masyarakat saat puasa semakin meningkat setiap tahunnya. Padahal seperti yang diketahui bersama waktu makan di saat puasa tidak sebebas di bulan lainnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyoroti perilaku ini. Ia mengaku heran konsumsi pangan masyarakat justru meningkat saat puasa sehingga memicu lonjakan harga bahan pokok seperti daging sampai bawang goreng.

Pedagang pasar membenarkan adanya kenaikan konsumsi masyarakat saat Ramadan. Belanja masyarakat saat bulan puasa cenderung meningkat dibandingkan bulan-bulan biasanya. Masyarakat cenderung membelanjakan uangnya lebih banyak makanan di saat bulan puasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Praktiknya kan ternyata kebutuhan orang meningkat dari makan siang ke makan malam, artinya dibilang harusnya berkurang tapi kenapa kebutuhan meningkat? Mungkin karena biasanya makannya biasa, karena puasa makannya malam-malam biar rasa agak enakan kan gitu," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Peningkatan konsumsi masyarakat saat puasa meningkat lantaran keterbatasan konsumsi di siang hari. Keinginan masyarakat terhadap konsumsi makanan juga lebih beragam karena terbatasnya keinginan sejak pagi hari sampai sore hari maka mereka menginginkan banyak hal di saat berbuka puasa.

Meningkatnya hasrat akan konsumsi berbagai varian makanan dan minuman membuat belanja masyarakat meningkat hingga 8% dibandingkan bulan biasa.

"Kita biasanya minum nggak usah pakai gula juga nggak apa-apa kan, ternyata karena buka puasa hasratnya kan. Kolak itu kalau nggak puasa kan nggak pakai kolak. Jadi biasanya ubi nggak laku sekarang laku. Variasi makanan meningkat, kebutuhan orang meningkat memang sedikit-sedikit tapi memang berubah. Kalau itu bisa lebih dari 8% kalau dirata-ratakan," jelas Ngadiran.

Pihaknya memberi contoh betapa konsumtifnya belanja pangan masyarakat saat puasa. Misalnya, masyarakat biasa mengonsumsi satu jenis pangan saja kemudian menambah daftar belanjaan yang dibeli. Hal ini membuat tingginya konsumsi masyarakat saat puasa.

"Biasanya nggak usah beli ayam kan sekarang beli ayam, walaupun ekonomi susah ternyata beli ayam. Biasanya nggak pakai kangkung sekarang pakai kangkung itu juga ditambah telur biasanya. Makan biasanya nggak usah pakai cabai sekarang pakai cabai," tutur Ngadiran.

Peningkatan penjualan pun terjadi pada beberapa bahan pangan seperti sirup, gula, dan minyak goreng. Peningkatan ini terjadi karena meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap minuman manis dan gorengan saat berbuka puasa.

"Memang ada beberapa barang-barang tertentu yang meningkat. Orang nggak biasa beli sirup beli sirup, orang nggak biasa beli gulanya 1 kilogram (kg) sekarang beli gulanya 1,5 kilogram (kg) kadang 2 kilogram (kg). Orang biasa beli minyak gorengan 0,5 kilogram (kg) sekarang beli 1 kilogram (kg)," kata Ngadiran. (feb/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads