Daging tersebut berasal dari daging yang diimpornya lewat anak perusahaannya, PT Sumber Agro Semesta (SAS). Menurutnya, harga daging sebenarnya bisa lebih murah, permainan oleh importir sampai distributorlah yang membuat daging sampai saat ini menjadi barang mahal di Indonesia.
"Karena kita tahu harga daging cuma Rp 55.000-60.000/kg, kalau kita potong kasih upah, cold storage dan lainnya kita bisa kasih Rp 70.000/kg ke masyarakat. Saya hanya ingin potong saja kartel-kartel yang nggak bertanggung jawab," kata Tomy ditemui di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Daging sapi kalau kita impor hanya US$ 2,8/kg, Australia artinya Rp 28.000/kg lebih, dipotong-potong buat jadi daging Rp 70.000/kg atau Rp 65.000/kg. Kok jadi Rp 130.000/kg? Kalau You bilang harga daging sapi Rp 41.000/kg kan spekulan. Mungkin juga bisa orang Indonesia atau orang Australia yang bilang, tapi harga aslinya kan US$ 2,8/kg. Itu daging dari Australia yang hidup yah," terang Tomy.
Jika AGP menjual dengan harga sebesar Rp 75.000/kg, itu harga yang normal yaitu daging beku impor dengan jenis 95 CL, atau daging dengan kualitas kandungan lemak 5%.
"Karkas kan kita tahu zaman nggak ada spekulan harganya hanya US$ 3,6-3,8/kg, kalau kita impor CL 95 hanya US$ 3,8, yah kita hanya bukan operasi paling murah, kita hanya operasi sesuai harga yang sesungguhnya saat harga normal," ujar Tomy.
"Nah kasihan pemerintah ini harus dihajar dengan spekulan sembako dan daging, justru harusnya saat pemerintah harus dibantu, orang malah naikkan harga, kita Artha Graha nggak mau main begituan, kalau modalnya US$ 4,2 yah kita jual Rp 75.000/kg," tambahnya lagi. (drk/drk)











































