Jalan Cepat Rusak Gara-gara 90% Angkutan Barang Lewat Darat

Jalan Cepat Rusak Gara-gara 90% Angkutan Barang Lewat Darat

Dana Aditiasari - detikFinance
Rabu, 15 Jun 2016 12:27 WIB
Jalan Cepat Rusak Gara-gara 90% Angkutan Barang Lewat Darat
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Penurunan kualitas jalan akibat berlebihnya muatan angkut alias overload kendaraan pengangkut barang menjadi masalah yang menghiasi sistem transportasi di Indonesia.

Kepala Humas Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Achmad Yani mengatakan, sayangnya masalah overload hingga saat ini masih menjadi masalah yang tak kunjung selesai.

Alasannya, saat ini angkutan barang melalui jalan darat masih menjadi primadona. "90% angkutan barang, masih didominasi angkutan jalan," tutur Yani dalam rapat di Kantor Badang Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Jakarta, Rabu (15/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, hal ini dimungkinkan terjadi lantaran biaya angkut barang melalui jalan darat masih jauh lebih murah ketimbang angkutan lain seperti angkutan laut dan kereta api.

"Bahkan, menurut kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), waktu kami rapat dengan mereka beberapa waktu lalu, angkutan jalan masih jauh lebih murah ketimbang angkutan laut. Hitungan mereka 10 kali lebih murah. Artinya angkutan jalan masih jauh lebih menarik dari angkutan laut dan kereta api," kata dia.

Dari kajian lebih lanjut, sambung dia, sebenarnya angkutan barang melalui laut menggunakan kapal laut sebenarnya jauh lebih murah ketimbang melalui jalan darat menggunakan truk.

"Sebenarnya biaya angkutnya murah. Lalu apa yang mahal? Yang mahalnya di pelabuhan," sambung dia.

Untuk itu, sambung dia, diperlukan satu terobosan aturan lintas sektor yang dapat mendorong pemerataan pemanfaatan moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang. Tujuannya agar lalul intas darat bisa menurun bebannya, dan kualitas jalan bisa terjaga. Pada akhirnya, kenyamanan masyarakat berkendara bisa dijaga.

"Manajemen waktu, manajemen parkir dan manajemen terminal itu biasa. Perlu ada terobosan. Nggak bisa pakai aturan-aturan yang biasa-biasa lagi," pungkas dia. (dna/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads