BPS Hitung Indeks Pembangunan Manusia di 2015, Sudahkah Berkualitas?

BPS Hitung Indeks Pembangunan Manusia di 2015, Sudahkah Berkualitas?

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 15 Jun 2016 14:00 WIB
BPS Hitung Indeks Pembangunan Manusia di 2015, Sudahkah Berkualitas?
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2015 sebesar 69,55 atau lebih tinggi dari target yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Realisasi ini meningkat 0,65 poin dibandingkan 2014 yang sebesar 68,90.

"Target APBN 69,4, jadi realisasi ini sudah di atas target yang ditetapkan pemerintah," ungkap Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Akan tetapi, status yang dijatuhkan atas realisasi ini adalah tahap sedang, atau masih sama dengan tahun sebelumnya. IPM akan naik menjadi tahap tinggi bila mencapai level 70-80 dan di atas 80 adalah sangat tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suryamin menjelaskan, IPM merupakan indikator untuk pengukuran keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia. Indikator ini dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan dan pendidikan serta yang lainnya.

Ada tiga unsur dasar yang membentuk IPM. Pertama adalah umur panjang dan hidup sehat yang tergambar dalam Angka Harapan Hidup yang artinya jumlah tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup, dengan asumsi bahwa pola angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.

"Angka harapan hidup selama 2015 adalah 70,78 tahun atau meningkat 0,19 tahun dibandingkan tahun lalu," jelasnya.

Kedua adalah dimensi pengetahuan, yang meliputi harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Bila angka ini meningkat setiap tahunnya, maka menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak penduduk yang bersekolah.

"Harapan lama sekolah di Indonesia sudah mencapai 12,55 yang berarti anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus SMA atau D1. Sedangkan untuk rata-rata lama sekolah di Indonesia pada 2015 adalah 7,84 tahun," terang Suryamin.

Ketiga adalah dimensi standar hidup layak. Ini mewakili kualitas hidup manusia karena berkaitan dengan pendapatan per kapita yang disesuaikan dengan harga konstan 2012. Dalam lima tahun terakhir, ada peningkatan 1,51% per tahun.

"Pada tahun 2015 pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia Rp 10,15 juta per tahun," pungkasnya. (mkl/drk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads