Ini Alasan RI Lebih Banyak Impor Sapi Bakalan Dibandingkan Indukan

Ini Alasan RI Lebih Banyak Impor Sapi Bakalan Dibandingkan Indukan

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Rabu, 15 Jun 2016 14:25 WIB
Ini Alasan RI Lebih Banyak Impor Sapi Bakalan Dibandingkan Indukan
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pemerintah lebih banyak mengimpor sapi bakalan ketimbang sapi indukan tahun ini. Lantas, apa alasa pemerintah mengimpor lebih banyak sapi bakalan?

"Biaya untuk membuat dia lebih besar dan gemuk dalam 4 bulan lebih murah disini daripada negara lain," ujar Darmin setelah memimpin Rakor Pangan Nasional di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).

Pihaknya pun menegaskan bahwa dalam beberapa kesempatan juga pemerintah berminat membeli sapi indukan asal Australia dan Selandia Baru. Namun karena persediaannya yang tidak selalu banyak membuat pemerintah lebih sering melakukan impor sapi bakalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang kalau ada sapi perah sudah setengah tua atau 3/4 tua sedang dilelang di Australia atau New Zealand, kita juga tahu. Kita juga ada saatnya beli juga itu, tapi kan nggak setiap waktu dijual. Enggak setiap waktu ada sapi seperti itu. Tapi kalau bakalan kapanpun ada," kata Darmin.

Selain itu, dengan mengimpor sapi bakalan juga dapat menambah nilai jual daging sapi ke konsumen. Hal ini dikarenakan bobot sapi mengalami peningkatan setelah digemukan di feedloter alias tempat penggemukan. Kemudian, apabila sapi terkena penyakit tertentu saat diimpor ke Indonesia, dalam waktu 4 bulan penyakit tersebut dapat hilang seiring dengan proses penggemukan.

"Kita dapat benefit dan value added karena membesarkan sapi itu disini. Tiga atau empat bulan cukup. Ya kita mengimpornya sebenarnya di daerah yang tidak terkena penyakit, tapi sebenarnya yang terkena penyakit pun 4 bulan cukup untuk meyakinkan," tutup Darmin.

Pemerintah telah mengeluarkan izin impor sebanyak 250.000 ekor sapi untuk kuartal II 2016. Impor sapi bakalan ini akan digemukkan oleh feedloter untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di kuartal IV 2016. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads