Sekedar informasi, seksi I Tol Batang-Semarang memiliki panjang 3,2 km dari Batang sampai Batang Timur, sementara seksi II memiliki panjang 36,35 km menghubungkan Batang Timur sampai Weleri.
"Dua seksi itu harapannya bisa dilalui Lebaran tahun depan (tahun 2017), bisa dimanfaatkan. Ini akan jadi jalur alternatif Alas Roban (salah satu daerah rawan macet di Jalur Pantura). Makanya jalan tol ini jadi salah satu yang diprioritaskan," ujar dia ditemui di Desa Pasekaran, Batang, Jawa Tengah, Jumat (17/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi seperti itu rawan menimbulkan kemacetan panjang saat arus lalu lintas sedang padat seperti saat musim mudik Lebaran. Tak jarang, kecelakaan kendaraan dijumpai di titik ini juga karena ada lingkungan sekitar alas roban masih berbentuk hutan dan minim penerangan.
Keberadaan Jalan tol ini pun kata Heru sangat ditunggu warga Semarang karena bila telah tersambung dengan jaringan jalan tol lainnya dapat mempersingkat waktu tempuh ke sisi Barat Pulau Jawa.
Ia membandingkan, tanpa Jalan tol, perjalanan dari Jakarta hingga Brebes Timur saja membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam. Padahal, jarak dari Brebes Timur ke Semarang juga masih memakan waktu sedikitnya 3 jam lagi.
"Tapi dengan adanya tol, Jakarta-Semarang nanti bisa 6 jam. Nanti orang bisa berfikir pulang pergi. Nggak lagi harus seharian dari Jakarta ke Semarang," pungkas dia.
Jalan Tol Batang-Semarang sendiri secara total memiliki panjang 75 km yang terbagi dalam 5 seksi, yakni:
Seksi I Batang-Batang Timur sepanjang 3,5 km,
Seksi II Batang Timur-Weleri sepanjang 36,35 km,
Seksi III Weleri-Kendal sepanjang 11,05 km,
Seksi IV Kendal-Kaliwungu sepanjang 13,5 km,
Seksi V Kaliwungu-Krapyak sepanjang 10,9 km.
"Progres pembebasan lahan untuk seksi I sudah adalah 95%, seksi II sudah 41%, seksi III sudah 4,5%, seksi IV dan V masih baru mulai, masih 0%," jelas dia.
Namun demikian, dirinya tetap optimis seluruh pekerjaan pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang dapat rampung sesuai target di 2018.
"Karena kita pakai skema baru, pembangunan dilakukan secara simultan. Kalau dulu tunggu lahan 100%, kalau sekarang, lahan yang tersedia langsung dibangun. Itu namanya simultan, jadi diharapkan selesai tepat waktu," pungkas dia. (dna/feb)











































