Bank Dunia: Indonesia Perlu Kembangkan Industri Manufaktur dan Jasa

Bank Dunia: Indonesia Perlu Kembangkan Industri Manufaktur dan Jasa

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 20 Jun 2016 12:00 WIB
Ilustrasi Foto: Arbi Anugrah
Jakarta - Semakin lemahnya perekonomian dunia membuat berbagai negara juga turut merasakan dampaknya. Guna mengantisipasi hal ini berimbas semakin besar ke Indonesia, sektor industri manufaktur perlu dikembangkan lagi agar tidak hanya bergantung pada komoditas yang tengah mengalami penurunan.

Industri manufaktur dan jasa dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya dengan melibatkan banyak pekerja. Berbagai terobosan tentu perlu dilakukan agar sektor ini dapat kembali bergairah seperti di era 1990-an.

"Sektor manufaktur serta jasa di negara ini dapat memberikan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan berupah tinggi apabila melakukan reformasi agresif," terang Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves, saat acara Indonesia Economic Quarterly di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di era 1990-an, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang dari sektor industri manufaktur. Angka pertumbuhan industri manufaktur pada saat itu cukup tinggi mencapai 11% per tahun dibandingkan dengan beberapa tahun ke belakang yang menurun hanya 4% per tahun.

"Indonesia tahun 1990-an saat itu kuat dalam manufaktur. Saat itu Indonesia melihat manufaktur mereka tumbuh 11% per tahun. Sayangnya, saat ini sektor manufaktur jauh lebih kecil sekitar 4% per tahun," ujar Chaves.

Angka pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia saat ini kalah dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam. Pemerintah perlu memberikan kebijakan baru agar industri manufaktur di Indonesia dapat meningkat seperti di zamannya.

"Saat ini sektor manufaktur Vietnam jauh lebih besar dari Indonesia. Kita membutuhkan aksi untuk revitalisasi manufaktur. Mudah-mudahan negara ini dan pemerintahnya bisa menjadikan reformasi kebijakan yang dibutuhkan sehingga bisa mendapatkan posisi kembali," kata Chaves.

Harga Komoditas Masih Tetap Rendah dan Cenderung Turun

Seiring dengan pelemahan ekonomi global dan penurunan berbagai harga komoditas ke titik terendahnya, Bank Dunia beberapa waktu lalu merevisi angka pertumbuhan ekonomi dunia. Sebelumnya angka pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan di angka 2,9% dan kemudian dipangkas ke angka 2,4%.

Semua negara di dunia juga mengalami akibat dari pelemahan ekonomi global tang turut berimbas pada angka pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.

Menurut catatan Bank Dunia, penjualan berbagai barang komoditas diperkirakan belum beranjak naik dan bahkan diperkirakan mengalami penurunan.

"Risiko eksternal sangat besar karena harga komoditas yang masih tetap rendah dan pertumbuhan perdagangan dunia tidak terlalu menjanjikan bahkan mengalami penurunan," terang Rodrigo.

Selain itu, yang perlu diwaspadai juga adalah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang akan menaikan suku bunga bank sentralnya atau Fed Fund Rate di tahun ini.

"Kebijakan ekonomi Amerika Serikat menjadi hal yang perlu dipertimbangkan," tambah Chaves.

Isu lepasnya Inggris Raya dari bagian Uni Eropa juga semakin jelas terdengar dan diperkirakan dapat mempengaruhi perekonomian global mengingat Inggris sebagai salah satu pusat ekonomi Eropa. China juga akan mengeluarkan kebijakan ekonomi terbarunya yang akan membayar utang negara dan BUMN yang dimilikinya.

"Minggu depan ada referendum di Inggris Raya mengenai pengamatan pasar dan juga ada isu China yang melakukan penyeimnbangan pertumbuhan ekonomi mereka dan mencoba membayar utang," kata Chaves. (ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads