Sebab lainnya, selama ini peternak rakyat tidak memiliki data-data genetik pada sapi yang dipeliharanya, sehingga membuat peternak kesulitan menghasilkan bibit sapi unggul.
Hal tersebut diungkapkan Karnadi Winaga, Direktur Utama PT Karya Anugerah Rumpin (KAR), salah satu perusahaan penggemukan (feedloter) yang juga telah lama merintis bisnis breeding sapi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ketidaktahuan dan ketiadaan data tersebut, jelasnya, membuat banyak peternak lokal akhirnya mengawinkan sapinya dengan sapi yang masih sedarah. Dampaknya, kualitas anakan yang dihasilkan tidak optimal.
"Tidak ada data-data itu sebabkan sapi lokal akhirnya inbreeding atau kawin sedarah. Kalau kita karena tahu, kita bisa kawinkan dengan yang darahnya berbeda, artinya di situ kita tahu keunggulan-keunggulan yang kita mau kawinkan, jadi hasilnya makin baik," terangnya.
Di sisi lain, tanpa catatan data genetik, peternak lokal yang mencoba melakukan breeding terkadang melahirkan anakan sapi dengan kualitas cacat, meski berasal dari indukan unggul.
"Kalau kita nggak punya data induknya siapa, asalnya darimana-mana, susah. Makanya banyak sapi di daerah inbreeding, kalau sudah inbreeding sapi yang sifat negatif-negatif keluar, sapinya cebol, pencernaannya terganggu, makannya sedikit," ujar Karnadi.
"Sapi banyak yang lebih unggul dari Australia sebenarnya. Kalau di peternak banyak yang nggak bisa tahan sapi 5 tahun, 1 atau 2 tahun dia untung sudah dijual. Setelah dijual sapinya kemana? Nggak tercatat, data itu nggak pernah ketemu," tambahnya.
Kondisi tersebut, menurut Karnadi, seharusnya jadi perhatian pemerintah dalam memperbaiki kualitas sapi untuk tujuan swasembada.
"Makanya kita kerja sama dengan LIPI. Kita catat data genetiknya, kemudian mereka kembangkan dengan kawin persilangan. Tugas pemerintah ini," pungkasnya. (feb/feb)











































