Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain, mengungkapkan persoalan pelik sulitnya swasembada sapi di Indonesia, bukan saja terletak pada skala usaha yang sebagian besar merupakan peternak rakyat, namun juga pada masalah pakan sapinya.
"Sapi kita makan rumput hijau, tapi kok kurus. Australia gersang tapi sapinya kok gemuk-gemuk. Karena pakan nggak hanya hijauan (rumput) saja, butuh tambahan protein juga, konsentrat, dan lainnya. Lemas (sapi) kalau cuma hijauan saja," jelasnya ditemui detikFinance di peternakan sapi Karya Anugerah Rumpin, Bogor, Selasa (21/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diungkapkan Iskandar, kalau pun ingin memberdayakan peternak sapi rakyat, pemerintah seharusnya membangun industri pakan sapi untuk dijual kepada peternak dengan harga terjangkau.
"Yang penting pakan sapinya ada, peternak itu jangan dibuat repot, sediakan pakannya saja. Kalau peternak jual sapi untungnya sedikit, hitung-hitungan untung memelihara sapi setahun rata-rata hanya Rp 3 juta saja," terang dia.
Industri pakan sapi ini, sambungnya, tak perlu dibangun secara besar-besaran. Cukup dibangun di daerah-daerah yang selama ini jadi sentra poduksi sapi. Hal tersebut bisa mendorong banyak masyarakat memelihara sapi, karena tak perlu direpotkan dengan pakan.
"Biaya pelihara sapi satu tahun bisa Rp 15 juta, paling besar yah buat pakan. Sedikit untungnya dari sapi, kalau bisa didukung dengan industri pakan, peternak tidak khawatir soal pakannya. Industri sapi Australia juga tidak dibangun dengan sekejap kok," ucap Iskandar.
(ang/ang)











































