Hal tersebut diungkapkan Amran usai menjajal alat pemanen, pemipil, sekaligus traktor jagung yang dikembangkan Balai Besar Pengembangan dan Mekanisasi Pertanian di areal sawah jagung di Serpong, Tangerang Selatan.
"Dengan alat ini akan dorong generasi muda petani turun bertani. Ini kan lagi panen jagung bisa sambil telepon pacarnya. Dengan teknologi jadi dimudahkan," ucap Amran di areal persawahan jagung, Serpong, Tanggerang Selatan, Kamis (23/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu panen manual butuhkan 60 HOK (hari orang kerja) sehektar. Dengan ini hanya 8 HOK atau 1 hektar bisa 3-4 jam," ujar Amran.
"Kenapa saya selalu bilang swasembada harus mekanisasi, dulu panen satu hektar seharian, ini hanya 3-4 jam selesai. Ini gabungan antara combine harvester, rice transplanter, alat olah tanah menjadi satu. 3 kali panen dalam setahun," tambahnya.
Amran mengungkapkan, kementeriannya akan menganggarkan lebih banyak lagi pengadaan alsintan untuk disebar pada kelompok-kelompok tani. Karena baru dikembangkan, tahun ini pihaknya hanya menganggarkan untuk 500-1.000 unit.
"Secara bertahap mungkin kita adakan apakah 500 atau 1.000 unit tahun ini. Satu alat biaya produksinya Rp 150 juta, kalau dijual harganya sekitar Rp 200 jutaan," jelasnya. (feb/feb)











































