"Impor jagung sampai bulan ini turun 47%, turun dibandingkan tahun lalu. Sekarang impornya hanya 800.000 ton, kalau terus dipertahankan (impor) turun 50% maksimal, 2018 bisa swasemada. Malah bisa jadi 2017 bila perlu impor tak ada lagi," ucap Amran ditemui di areal sawah jagung di Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (23/6/2016).
Selain lewat program integrasi jagung dengan sawit, serta jagung dengan karet, program mekanisasi pertanian pada tanaman jagung bisa menambah keyakinannya mencapai target tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu sebelumnya, Amran menyebut, pihaknya terus menggenjot produksi jagung dalam negeri, salah satunya lewat program integrasi sawit-jagung. Tahun 2016, ditargetkan ada tambahan 1 juta hektar lahan dari integrasi tersebut.
"Tahan impor (jagung) itu salah, kita lakukan dengan penambahan anggaran. Kita akselerasi dengan integrasi sawit dan jagung di 1 juta hektar lahan," tandas Amran.
Dia menjelaskan, saat ini rata-rata harga jagung di tingkat petani yang diserap perusahaan pakan ternak dihargai paling rendah Rp 3.150/kg. (feb/feb)











































